Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Beredar rekaman suara salah seorang ustazah inisil I, pengasuh di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Ikhlas Al Aziziah Marong Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah (Loteng).
Rekaman suara tersebut, konon jadi sumber pertama BKBH Mataram Djoko Jumadi melaporkan pimpinan Ponpes Nurul Ikhlas Al Aziziah Marong Kecamatan Praya Timur Loteng. Dalam kasus dugaan pelecehan seksual oleh oknum tuan guru, kepada I sejak masih nyantri hingga di tarik jadi pembimbing sampai sekarang.
Kepada ntbupdate.com I mengaku, saat di klarifikasi oleh penyelidik Polres Loteng dan penyelidik memperdengarkan sekilas rekaman dan mempertanyakan apakah rekaman itu suaranya atau bukan.
Saat itu pihaknya mengakui dan benar itu suaranya, cuman pihaknya tidak tau isi rekaman tersebut secara utuh, karena penyelidik hanya memperdengarkan sekilas.
“Kemarin saya penuhi panggilan penyelidik Polres Loteng, saya hanya ditanya apa ini suaranya, saya jawab ia, cuman tidak di perdengarkan sekilas, sehingga saya jawab sesuai dengan pertanyaan,” tegasnya, Ahad (1/2).
Yang mengherankan lanjutnya, rekaman suara itu ia ketahui saat klarifikasi, apakah ada beredar di tengah halayak ramai, pihaknya tidak mengetahuinya.
Menurutnya rekaman suara yang kini ada di tangan penyelidik pasti dibuat direkam tanpa sepengetahuannya. Terhadap adanya rekaman itu pihaknya sangat keberatan dan akan menuntut secara hukum kepada siapa saja yang merekam, memperbanyak dan menyebarluaskan. Untuk ini pimpinan pondok, keluarga dan kuasa hukum meminta pertanggunganjawaban saudara Djoko Jumadi atas adanya rekaman itu. Darimana dia dapatkan ? Dan kenapa rekaman itu ada di tangan penyelidik ?
Ditanya soal siapa yang merekam, I mengaku tidak tau, dan bisa saja saat dirinya sedang tidak sadar dan mengucapkan hal hal yang tidak pernah terjadi.
Diakuinya, dirinya sejak kecil mengidap penyakit kesurupan, bisa saja ketika penyakit itu menimpanya, dirinya berkata yang tidak tidak dan itu di rekam, padahal apa yang ia katakan itu diucapkan dalam keadaan tidak sadar, sehingga itu tidak pantas sebagai acuan, sebab pihaknya tau sejak jadi santri sampai di angkat jadi pembimbing bapak H. Taufiq Firdaus sangat taat agama dan apa yang beredar, soal kasus pelecehan seksual itu tidak benar. (NU-01)
