Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Semoyang Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah (Loteng), terus mengedepankan keamanan pangan, kebersihan, sanitasi, dan gizi sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baik itu mencakup pemenuhan fasilitas dapur higienis, penggunaan peralatan food grade, penerapan sistem manajemen mutu (HACCP), serta legalitas dan transparansi operasional untuk menjamin makanan sehat bagi penerima manfaat.
“Kepuasan dan kualitas sesuai standar yang telah ditetapkan BGN, kami tetap utamakan,” kata pengelola MBG Desa Semoyang Kecamatan Praya Timur Loteng H. Senirah, Kamis (22/1).
Untuk hari ini Kamis 22 Januari 2026 saja lanjutnya, jenis menu sajian yang disajikan diantaranya,
– Nasi putih
– ayam suwir
– tempe goreng
– tumis kacang panjang
– buah jeruk
Dikatakan, dalam pendistribusian program Makan Bergizi Gratis (MBG), terdapat beberapa aspek terpenting yang wajib diutamakan untuk memastikan keberhasilan dan manfaat optimal bagi penerima.
Pertama, ketepatan sasaran, prioritas utama adalah memastikan makanan diterima oleh kelompok rentan yang menjadi target program, seperti balita, anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Hal ini krusial untuk menekan angka malnutrisi dan stunting di Indonesia.
Dua, Kualitas dan Keamanan Pangan (Higienitas), dimana Aspek ini sangat vital karena berkaitan langsung dengan kesehatan penerima manfaat.
Tiga Ketepatan Waktu, distribusi harus berjalan lancar dan tepat waktu untuk memastikan makanan dikonsumsi saat masih segar dan layak makan. Keterlambatan dapat menyebabkan makanan menjadi basi dan tidak termakan, yang akan menggagalkan tujuan program.
Ke empat, Kandungan Gizi Seimbang
Program MBG menekankan pada pemenuhan gizi yang seimbang, bukan sekadar mengenyangkan. Makanan yang didistribusikan harus memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang meliputi karbohidrat, protein (hewani dan nabati), sayuran, buah-buahan, dan lemak sehat.
Terakhir, Pemerataan dan Jangkauan
Program ini bertujuan untuk mengurangi kesenjangan gizi antar daerah. Oleh karena itu, distribusi diprioritaskan untuk menjangkau daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan wilayah yang membutuhkan pemerataan akses gizi.
“Apalagi kami di sekolah dan madrasah di Desa Semoyang dan desa lain yang masuk dalam binaan kami, aksesnya sangat mudah, jalan jalan sudah bagus, sehingga kami dalam proses distribusi ke sekolah ataupun madrasah, tepat sasaran sesuai dengan waktu yang sudah kami rencanakan,” tutupnya. (Nu-01).
