Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Secara umum Mata Pelajaran (Mapel) Matematika (Mama), salah satu mapel yang dinilai Momok Menakutkan dan sulit oleh siswa. Terutama pada materi geometri yang membutuhkan kemampuan visualisasi dan penalaran spasial.
Atas dasar ini, tidak sedikit mahasiswa mencoba membongkar tabir dibalik ketakutan siswa pada Mapel ini.
Baiq Yunita Khaerul Nisa mahasiswa Program Studi Matematika Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram misalnya, melakukan penelitian mengenai penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan GeoGebra dalam pembelajaran transformasi geometri.
Kepada ntbupdate.com, Baiq Yunita nama sapaannya mengungkapkan, semasih jadi siswa di MTsN 1 Lombok Tengah (Loteng), pihaknya sangat tertarik dengan pelajaran yang dinilai sulit, termasuk Mapel matematika.
“Saya suka tantangan, Mapel Matematika termasuk salah satu pelajaran yang dinilai sulit, makanya pas kuliah saya ambil jurusan Tadris Matematika, untuk membongkar dimana sih letak sulitnya pelajaran ini, sebab saat masih jadi siswa pelajaran ini masuk daftar kurang diminati oleh siswa,” katanya, Ahad (31/5).
Berangkat dari itu lanjut mahasiswi semester 8 melakukan penelitian, penelitian ini berangkat dari fenomena bahwa banyak siswa masih mengalami kesulitan memahami konsep-konsep matematika secara mendalam.
Dalam pembelajaran sehari-hari, siswa sering kali mampu menghafal rumus, tetapi belum sepenuhnya memahami makna konsep yang mendasarinya. Kondisi tersebut terlihat pada materi transformasi geometri, khususnya rotasi, yang menuntut siswa tidak hanya memahami prosedur perhitungan tetapi juga mampu membayangkan perubahan posisi suatu objek dalam bidang koordinat.
“Saya kan pernah duduk di bangku siswa, jadi pernah mengalami sulitnya pelajaran ini,” ungkapnya.
Menurut putri kelahiran 2003 rendahnya pemahaman konsep matematis sering kali dipengaruhi oleh pembelajaran yang masih berpusat pada guru serta minimnya penggunaan media pembelajaran yang mampu memvisualisasikan konsep-konsep abstrak. Akibatnya, siswa cenderung pasif dan hanya mengikuti langkah-langkah penyelesaian yang diberikan tanpa benar-benar memahami alasan di balik proses tersebut.
Untuk membongkar ini, pihaknya melakukan penelitian di MTsN 3 Mataram tahun ajaran 2025/2026. Dalam penelitian tersebut, pihaknya mengambil sampel di dua kelompok siswa, lalu ia bandingkan.
Dalam penilitian tersebut, Kelompok pertama memperoleh pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL) yang terintegrasi dengan aplikasi GeoGebra, sedangkan kelompok kedua mengikuti pembelajaran konvensional yang lebih berpusat pada penjelasan guru.
” Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat kegiatan belajar melalui penyelesaian masalah nyata,” jelasnya.
Sementara itu, GeoGebra digunakan sebagai media pembelajaran interaktif yang memungkinkan siswa mengamati proses transformasi geometri secara dinamis dan visual. Dengan bantuan GeoGebra, siswa dapat melihat secara langsung bagaimana suatu titik atau bangun berubah posisi ketika mengalami rotasi, sehingga konsep yang sebelumnya abstrak menjadi lebih mudah dipahami.
Dari penelitian tersebut, mendapatkan kesimpulan, siswa yang belajar menggunakan PBL berbantuan GeoGebra memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan siswa yang belajar dengan metode konvensional.
Nilai rata-rata kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada kelas eksperimen mencapai 55,88, sedangkan pada kelas kontrol sebesar 49,34. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang mengombinasikan pemecahan masalah dan teknologi visual interaktif berpotensi meningkatkan kualitas pemahaman konsep matematika siswa.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa kemampuan spasial siswa memiliki hubungan yang erat dengan kemampuan pemahaman konsep transformasi geometri. Siswa dengan kemampuan spasial tinggi cenderung memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan siswa dengan kemampuan spasial rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan membayangkan, memutar, dan memanipulasi objek secara mental menjadi faktor penting dalam mempelajari materi geometri.
Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematis berdasarkan tingkat kemampuan spasial siswa. Kelompok siswa dengan kemampuan spasial tinggi dan sedang memiliki capaian yang lebih baik dibandingkan kelompok siswa dengan kemampuan spasial rendah. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa kemampuan spasial merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran geometri.
Menurutnya, integrasi Problem Based Learning dan GeoGebra tidak hanya membantu siswa memahami prosedur penyelesaian soal, tetapi juga membantu mereka membangun pemahaman konseptual yang lebih mendalam. Siswa menjadi lebih aktif berdiskusi, mengeksplorasi berbagai strategi penyelesaian, serta memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna melalui visualisasi yang disediakan oleh GeoGebra.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi guru matematika dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan siswa abad ke-21.
Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi pendidikan yang dipadukan dengan model pembelajaran aktif dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah.
Atas ap yang sudah ia lakukan, pihaknya berharap sekolah dan guru semakin terbuka dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pembelajaran. Dengan pendekatan yang tepat, matematika tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit dan abstrak, melainkan sebagai ilmu yang dapat dipahami secara lebih konkret, menarik, dan bermakna bagi siswa.
“Untuk menghasilkan penilitian yang akurat dan tepat sasaran, saya selalu dapat bimbingan dari dosen pembimbing saya, pertama Susilahudin Putrawangsa Ph.D dan Sofyan Mahfudy, M.Pd beliau berdua selalu memberikan masukan dalam menyempurnakan hasil penelitian ini, semoga bermanfaat dan jadi amal ibadah,” tutupnya (Nu-01).
