Kemampuan literasi merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang. Dengan kemampuan literasi maka seseorang akan mudah untuk memahami bidang- bidang ilmu yang ada.
Menurut kamus online Merriam- Webster, Literasi ialah suatu kemampuan atau kualitas melek aksara di dalam diri seseorang dimana di dalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis dan juga mengenali serta memahami ide-ide secara visual. Sedangkan menurut Elizabeth Sulzby “1986”, Literasi ialah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca, berbicara, menyimak dan menulis” dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa, literasi merupakan kemampuan atau kompetensi dasar yang dimiliki seseorang untuk menganalisis dan memahami ide, gagasan, sebuah teks, simbol-simbol (visual) dan teks lisan (audio) melalui membaca dan menyimak (receptive skill) dan juga melalui berbicara maupun menulis (protective skill).
Lalu apa saja macam-macam literasi dasar ?. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa literasi dasar itu bukan hanya sebatas literasi membaca dan menulis saja, namun ada 6 (enam) literasi dasar yang harus kita ketahui dan kuasai antara lain.
1. Literasi baca tulis.
2. Literasi numerasi.
3. Literasi sains.
4. Literasi digital.
5. Literasi finansial dan
6. Literasi budaya dan kewarganegaraan.
Ke enam literasi dasar tersebut tidaklah mungkin dapat dikuasai sekaligus, namun harus dilatih secara berjenjang mulai dari tingkat pendidikan dasar yaitu, jenjang SD dan SMP sampai jenjang perguruan tinggi.
Pada jenjang pendidikan dasar, pembiasan literasi difokuskan pada literasi membaca menulis dan literasi numerasi. Dengan demikian tulisan ini, penulis fokus pada membangun budaya literasi sekolah pada level pendidikan dasar jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019 bahwa tingkat literasi Indonesia pada penelitian di 70 negara itu berada di nomor 62.
Ini artinya bahwa, kondisi literasi Indonesia sedang tidak baik, oleh karena itu berbagai upaya telah diupayakan pemerintah dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi para siswa, mulai dari upaya pengembangan kurikulum, menggelontorkan dana pembangunan perpustakaan dan pengadaan buku buku bacaan baik berupa buku fiksi maupun non fiksi.
Selanjutnya pemerintah juga menyusun berbagai program program yang mendukung peningkatan kemampuan literasi mulai dari pelatihan tenaga pustakawan, pelatihan literasi numerasi bagi para guru sampai kepada program yang bersifat masiv yaitu program Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Namun upaya-upaya yang telah dilakukan masih belum mampu membuahkan hasil yang memuaskan, kalaupun ada peningkatan tapi loncatannya masih kurang tinggi.
Hasil ini bisa dilihat dari nilai rapor pendidikan yang dirilis setiap tahunnya. Lalu upaya -upaya apa yang harus dilakukan oleh para pimpinan satuan pendidikan sebagai garda terdepan dalam peningkatan kemampuan literasi para siswanya.
Tentunya hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari akar permasalahan penyebab lambannya peningkatan kemampuan literasi para siswa. Ternyata dari hasil analisis penulis di lapangan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, kurangnya penciptaan lingkungan literasi, kurangnya pembiasaan literasi serta kurang adanya keteladanan berliterasi, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Untuk memecahkan persoalan tersebut diatas maka penulis sekaligus sebagai seorang kepala sekolah mencoba melakukan aksi nyata. Aksi nyata diawali dari membangun kebiasaan membaca diantara bapak ibu guru sebagai teladan bagi para siswa. Aksi nyata ini dilakukan dengan cara memposting hasil karya penulis di WA grup sekolah.
Aksi nyata berikutnya membangun komunikasi dan diskusi dengan para orang tua wali murid dan para anggota komunitas praktisi sekolah. Tidak cukup sampai disitu, penulis terus melakukan upaya-upaya lain seperti mencari inspirasi ke sekolah lain dalam rangka bagaimana membangun lingkungan literasi dan strategi pembiasan literasi di sekolah.
Atas uraian di atas, pihaknya sangat terinspirasi dengan gagasan dan action yang telah di lakukan oleh Kepala SMPN 3 Janapria Kecamatan Janapria Lombok Tengah.
“Beberapa hari lalu, kan kita mengadakan kegiatan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) di SMP 6 Praya, di seasons tanya jawab tentang strategi peningkatan literasi di sekolah, Kepala SMPN 3 Janapria Ahmad Junaidi, S.Pd berbagi praktik baik bagaimana membangun lingkungan dan pembiasaan literasi di sekolahnya, dan ternyata apa yang di sampaikan itu dia sudah praktikkan sendiri, Is The Best buat Kepala SMPN 3 Janapria,” katanya, Jum’at (1/12).
Sang kepala sekolah lanjutnya, ia dengan yakin menyampaikan ide dan gagasan inovatif yang dibuktikan dengan foto-foto aksi nyata dalam rangka penguatan literasi melalui penciptaan lingkungan sekolah kaya teks. Beberapa aksi nyata tersebut diantaranya.
1. Ruang terbuka ramah teks. Di Setiap pohon dan pojok-pojok dinding sekolah dipenuhi dengan teks, gambar dan simbol-simbol sehingga kemana para
siswa memandang, mereka bisa menganalisa dan membaca pesan- pesan yang disampaikan.
2. Kegiatan sekolah tematik. Artinya di setiap kegiatan seremonial sekolah selalu dipampangkan banner-banner yang pasti dibaca oleh para siswa.
3. Sekolah mendesain wallpaper/gambar -gambar menarik serta di posting di wa grup sekolah dengan harapan para siswa akan mengambilnya untuk dijadikan wallpaper di handphone masing-masing.
4. Sekolah membuat souvenir berlogo seperti gelas berlogo, untuk diberikan kepada setiap tamu yang berkunjung ke sekolahnya.
5. Sekolah menerbitkan Newsletter sekolah yang diterbitkan setiap bulan dengan harapan semua warga sekolah bisa membacanya.
ia menambahkan, “Dari lima kiat-kiat yang dilakukan oleh sekolah, maka kemampuan literasi para siswa di SMP 3 Janapria (Spentria) meningkat. Hal ini dibuktikan dengan nilai rapot pendidikan SMP 3 Janapria tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya.
Demikian ide-ide inovatif dan aksi nyata yang dilakukan oleh Spentria sebagai salah satu inspirasi cemerlang yang dapat diadopsi dan adaptasi di sekolah masing-masing. Semoga dengan inspirasi tersebut kemampuan literasi para siswa kita akan meningkat dari tahun ke tahun.
“Semoga apa yang telah dipraktikkan, bisa jadi guru untuk kita tiru bersama, demi kemajuan bersama,” tutupnya.
(*)
