Lombok Tengah (ntbupdate.com)-
Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), terus berupaya maksimal membantu Pemerintah Daerah (Pemda), dalam menurunkan angka kemiskinan dan mengurangi pengangguran.
Salah satunya dengan menggelar pelatihan diversifikasi produk berbahan tenun yang disesuaikan dengan tren pasar saat ini, yaitu menyulap Eceng Gondok, yang di kombinasi dengan bahan baku pandan dan anyaman rotan ketak, lalu dijadikan uang.
“Sesuai bidang masing-masing, kami terus membantu bapak Bupati dan Wakil Bupati dalam menurunkan angka kemiskinan dan mengurangi pengangguran, kami di Perindustrian
mendorong penguatan sektor industri kreatif lokal melalui berbagai program pelatihan bagi para pengrajin. Salah satunya dengan menggelar pelatihan diversifikasi produk berbahan tenun yang disesuaikan dengan tren pasar saat ini, termasuk dengan cara mengolah eceng gondok yang di kombinasi dengan bahan baku pandan dan anyaman rotan ketak, lalu itu di pasarkan untuk jadi uang,” kata
Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Loteng, Baiq Yuliana Safriani, Kamis (18/12).
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan nilai tambah produk tenun tradisional agar lebih diminati pasar, termasuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Pelatihan ini, terfokus pada pembuatan tas berbahan tenun, home decor, hingga perpaduan tenun dengan kain atau bahan lain, yang siap dijual, dan itu kita fokuskan tuntas bulan November Desember,” ujarnya.
Memantapkan hasil lanjutnya, Disperindag Loteng telah menjalin kerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Loteng sebagai upaya mengakomodir para pengrajin lokal.
Selain itu, agar pelatihan ini tidak sia sia, para pengrajin tetap diberikan pembinaan lanjutan, di mana pembinaan berkelanjutan langsung di bimbing Dekranasda.
Artinya di setiap event, hasil dari para pengrajin ini selalu diperkenalkan, termasuk ketika ada pemesanan antar-Dekranasda, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Untuk mendukung program tersebut, Dekranasda Loteng menyiapkan anggaran khusus yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU). Setiap pelatihan dialokasikan anggaran sebesar Rp 30 juta, dengan jumlah peserta yang telah dilatih mencapai sekitar 50 orang.
Tidak hanya itu, Disperindag Loteng juga melaksanakan pelatihan sesuai dengan potensi masing-masing, salah satu contoh di Kecamatan Praya Timur Loteng, yang dikenal dengan penghasilan tembakau. Juga diberikan Pelatihan dengan menggunakan anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
“Yang jelas, di mana ada kemauan dan potensi masyarakat, itu kami bina dengan cara memberikan pelatihan,” katanya.
Masih di wilayah Praya Timur Loteng, selain tembakau khususnya di wilayah Desa Beleka, dikenal sebagai pusat kerajinan ketak, juga diberikan pelatihan dengan cara memperkenalkan model dan trend terkini.
Hal tersebut dilakukan agar ada inovasi baru agar produknya tidak monoton, sehingga di pasaran selalu jadi rebutan dan itu keuntungannya akan kembali ke pengrajin itu sendiri.
“Bisnis pasar memang begitu, selalu ada yang baru sesuai trend terkini, makanya kita berikan pelatihan sesuai kebutuhan di pasaran, biar hasil kerajinan tidak menoton itu itu saja, harus disesuaikan dengan kebutuhan pembeli,” tutupnya. (Nu-01).
