Kisah Inspiratif Bq Suyatmin, Anak Buruh Yang Lulus Kedokteran

Pagi masih gelap ketika sepeda tua itu mulai dikayuh. Roda berdecit, rantai sedikit karatan, tapi lajunya mantap membelah jalan Penujak menuju Mataram. Di atas sadel sepeda yang sudah termakan usia, seorang gadis dengan jaket lusuh dan tas ransel berisi buku kedokteran, melaju dengan pelan tapi pasti, dia adalah Baiq Suyatmin Rahma.

_“Bike to campus,”_ katanya sambil tertawa. Itu bukan gaya-gayaan. Itu kebutuhan.

Rahma lahir sebagai anak pertama dari Pasangan Mamiq Suyat dan Inaq Suyat. Bukan dari keluarga berada. Bapak dan ibunya pekerja tidak tetap. Hari ini dapat upah, besok belum tentu. Tapi dari dua orang sederhana itu, Rahma belajar dua kata yang ia pegang sampai hari ini:
_tekun dan ikhlas_.

“Belajar yang tekun, Nak. Bantu orang dengan ikhlas. Rezeki biar Allah yang ngatur,” begitu pesan ibunya setiap malam.

Jalan Rahma tidak lurus. SDN 2 Penujak, SMPN 1 Praya, SMAN 4 Praya. Setelah tamat SMA, ijazah di tangan, tapi pintu kampus terasa jauh. Uang tidak ada. Maka Rahma ke Jakarta. Setahun ia habiskan di kawasan Berlan, di antara asap gerobak kebab.

“Tiap gulung kebab, saya doa. Ya Allah, kasih saya jalan kuliah.”

Doa itu dijawab. Pengumuman beasiswa penuh Fakultas Kedokteran Unram keluar. Nama Baiq Suyatmin Rahma ada di sana. Air mata Inaq jatuh di atas sajadah. “Beasiswa dari negara, Inaq,” kata Rahma sambil memeluk ibunya.

Kuliah kedokteran bukan main-main. Buku setebal bantal. Praktikum sampai malam. Tapi ujian terbesar Rahma bukan di anatomi. Ujiannya ada di dompet.

“Beasiswa bayar UKT. Alhamdulillah. Tapi untuk makan?” Rahma tersenyum. “Ada saja rezeki dari Allah. Kadang seminggu saya pegang Rp50 ribu. Kadang Rp100 ribu. Pernah cuma Rp15 ribu untuk tujuh hari. Tapi cukup. Benar-benar cukup.”

Lauknya sering tempe goreng dibagi tiga. Sarapan, makan siang, makan malam. Sepedanya jadi saksi. Pagi kayuh ke kampus, sore kayuh ke kos, malam kayuh ke perpustakaan. Hujan, panas, ban bocor — tetap dikayuh.

Kawan-kawannya naik motor. Rahma naik sepeda. “Hemat, sehat, dan di jalan saya bisa ngulang hafalan. Nervus kranialis, siklus krebs… semua saya rapal di atas sadel.”

_2 April 2026._ Gedung Auditorium Unram. Nama Baiq Suyatmin Rahma dipanggil. Mamiq Suyat yang bajunya paling bagus tapi tetap terlihat lusuh, menggenggam tangan Inaq Suyat erat-erat. Di atas panggung, anak mereka, mantan penjual kebab, kini resmi menyandang gelar _Dokter Muda_.

Hari ini, dr. Muda Baiq Suyatmin Rahma Koas di RSUP NTB Mataram. Jas putihnya masih baru, tapi sorot matanya sudah lama: tekun, ikhlas, dan tidak pernah menyerah pada keadaan.

Kalau kamu tanya apa rahasianya, Rahma cuma jawab pelan:
“Saya cuma anak buruh dari Penujak. Pernah jualan kebab. Pernah seminggu cuma pegang Rp15 ribu. Tapi saya percaya, kalau kita tekun belajar dan ikhlas membantu, Allah pasti kasih jalan. Beasiswa itu nyata. Mimpi itu nyata. Asal jangan berhenti ngayuh.”

Di lorong Kos Kertanegara Sukarbela, masih ada satu sepeda tua terparkir rapi. Rantai masih sedikit karatan. Tapi ia sudah mengantar pemiliknya dari gerobak kebab di Berlan, ke ruang operasi di Mataram.

Dan jika hari ini ada anak Lombok yang ragu karena keadaan, tengok nama ini: *Baiq Suyatmin Rahma*. Dari Penujak, untuk Indonesia.

( Ditulis Oleh Abah Nun: Takmir Masjid Baiturrahim Penujak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *