Oleh : Abah Nun
Di antara hiruk pikuk kehidupan, ada sosok sederhana yang bernama Lalu Suramadiya, atau lebih akrab disapa Mamiq Suyat. Ia adalah gambaran nyata dari seorang pekerja keras yang tak pernah mengenal kata lelah dan tak pernah mengeluh.
Bagi orang lain, berjalan kaki menempuh jarak jauh dari Mataram hingga ke Penujak mungkin terdengar luar biasa melelahkan. Namun bagi Mamiq Suyat, itu hanyalah hal biasa, sebuah perjalanan yang sering ia lalui dengan kaki telanjang dan semangat yang tak pernah padam.
*Dipatok Ular Berbisa*
Ketekunan dan ketangguhannya diuji saat suatu hari ia digigit ular berbisa. Istrinya bertanya ‘ _Embi ak leim Amen Suyat_ ?’ hendak kemana Bapak Suyat) tanya istrinya.. ia jawab, _ak lalu sendak_ , mau keluar sebentar, jawabnya lembut.
Dalam kondisi tubuh yang lemah dan berjalan tertatih-tatih, ia tetap berusaha mencari jalan menuju pawang ular untuk berobat, meski jaraknya sangat jauh dari rumah. Begitulah Mamiq Suyat; ia adalah tipe orang yang menanggung sakitnya sendiri. Jangankan orang lain tahu kondisinya, seringkali keberadaannya pun tak disadari sedang sakit. Ia baru akan mengaku sakit jika tubuhnya benar-benar tak sanggup lagi untuk sekadar berdiri atau duduk.
*Penghibur Anak Cemas*
Namun, di balik ketangguhannya itu, tersimpan kelembutan hati yang luar biasa. Salah satu keahlian terbaik yang ia miliki adalah mampu meluluhkan hati anak-anak yang akan disunat. Di tangannya, rasa takut dan cemas itu lenyap, berganti menjadi kegembiraan dan tawa. Ia tahu persis cara menghibur agar momen khitanan menjadi kenangan yang menyenangkan bagi si kecil.
Dirimu yang sedang menyiapkan anak atau cucu yang mau di sunat, lalu ada semacam kecemasan yang si buah hati tersayang, naa Mamiq suyat ini, insyallah bisa atasi.
*Ngurusi Jenazah*
Lebih dari itu, Mamiq Suyat juga dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi dan keberanian yang jarang dimiliki orang lain. Ia sangat sabar dalam merawat orang sakit, dan tak pernah menolak untuk mengurusi jenazah—seberapapun mengerikan kondisinya.
Suatu kali, saya bertanya dengan hati-hati, “Mamiq, bagaimana bisa Mamiq sanggup mengurus jenazah yang kondisinya sudah… mohon maaf, baunya sangat menyengat?”
Dengan wajah tenang dan penuh hormat, ia menjawab:
” _Amaq ngajah laek sentolak embun._ ”
(Ayah yang mengajarkan cara menghilangkan baunya.)
Ungkapan sederhana itu menyimpan kedalaman makna tentang ilmu dan didikan yang ia terima. Bukti nyatanya pernah terlihat jelas ketika ada jenazah yang sudah membusuk ditemukan di selokan. Mulai dari pengangkatan hingga proses pemandian, Mamiq Suyat lah yang dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab mengurusinya sampai selesai.
Mamiq Suyat adalah bukti bahwa kehebatan tidak selalu terlihat dari jabatan atau harta, melainkan dari ketulusan hati, ketangguhan fisik, dan kesediaan menjadi penolong bagi sesama, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun.
