Informasi Digital Kian Banjir, Miq Ari: Pers Harus Jadi Penjaga Kepercayaan Publik

Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Akhir akhir ini, karya jurnalis semakin terancam akibat Kecerdasan Buatan (AI).

Mengantisipasi hal itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Komisi X DPR RI dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara Barat, menggelar kegiatan sosialisasi penulisan berita ilmiah populer.

Sosialisasi tersebut bertujuan guna memperkuat kapasitas jurnalis NTB secara khusus. Dalam sosialisasi ini menghadirkan pemateri kompeten dari BRIN dan Komisi X DPR RI.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Lombok II H. Lalu Hadrian Irfani menyambut baik langkah PWI NTB, dalam menyikapi kemajuan teknologi di era digital, termasuk semakin banyaknya pemberitaan yang menggunakan AL.

“Kolaborasi antara BRIN, DPR RI yang di gagas rekan rekan PWI NTB sangat tepat, kemajuan teknologi di era digitalisasi yang mengarah kepada karya jurnalis yang mengandalkan AL, harus segera dicarikan solusi, termasuk dengan cara menggelar kegiatan sosialisasi penulisan berita ilmiah populer,” katanya secara virtual melalui sambungan Zoom kemarin.

Al hasil dari acara ini, para pewarta dalam menjalankan tugasnya mampu memposisikan diri dalam menggali informasi informasi akurat sesuai pakta dilapangan, termasuk masyarakat atau para pembaca bisa membedakan mana berita karya secara langsung sesuai dengan hasil peliputan dan hasil AL.

“Di era digital dan perkembangan AI saat ini, wartawan dituntut tidak hanya cepat menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu memverifikasi dan menerjemahkan informasi ilmiah agar mudah dipahami masyarakat,” ungkap Miq Ari.

Sebab lanjut ketua DPW PKB NTB ini, wartawan atau pers harus jadi penjaga kepercayaan publik, karena pihaknya sudah bertahun-tahun bergaul dan bersahabat dengan para awak media dan pihaknya secara pribadi, telah banyak dibantu dalam menyebar luaskan informasi sesuai tugas dan amanah yang telah diberikan masyarakat NTB.

Implementasi dari kegiatan ini, pihaknya berharap hasil-hasil riset akademik tidak hanya menumpuk di kampus, melainkan bisa dijembatani oleh media agar berdampak luas bagi publik. Ia juga mewanti-wanti insan pers terkait manipulasi konten yang kini semakin sulit dibedakan dari informasi asli.

“Pers harus tetap menjadi penjaga kepercayaan publik. Verifikasi, akurasi, dan etika jurnalistik harus tetap menjadi fondasi utama di tengah banjir informasi digital,” pungkasnya.

Sementara itu Peneliti BRIN, Mega Mardita menegaskan, media saat ini memiliki peran krusial sebagai agen pengetahuan publik. Menurutnya, hampir seluruh isu publik dewasa ini—mulai dari krisis global, teknologi, hingga kebijakan berbasis data—bersinggungan langsung dengan sains.

Namun gagal memikat publik, sehingga media dituntut untuk mampu menerjemahkan bahasa ilmiah yang rumit menjadi informasi yang aplikatif. “Publik juga butuh setiap informasi dipahami maksud dan tujuannya tanpa mengesampingkan hasil riset,” ujar Mega saat menyampaikan materi bertajuk “Jurnalisme Sains di Era AI dan Disinformasi” di Mataram.

Guna mengatasi hal tersebut, Mega memperkenalkan formula dasar jurnalisme sains yang menitikberatkan pada tiga elemen utama: temuan, dampak, dan manusia. Hasil riset harus bisa diterjemahkan menjadi manfaat yang konkret bagi masyarakat sehari-hari.

Selain teknik penulisan, peserta juga dibekali cara membaca cepat jurnal ilmiah—meliputi pemahaman abstrak, metode penelitian, hingga kesimpulan. Hal ini penting untuk mencegah pemberitaan berlebihan (overclaim) terhadap hasil riset yang masih prematur atau belum melewati proses uji sejawat (peer review).

Dalam kesempatan yang sama, Mega juga memaparkan ancaman nyata dari teknologi AI dalam ekosistem jurnalistik. Ia menyebutkan potensi manipulasi informasi melalui deepfake audio dan video, kemunculan artikel sintetis, jurnal palsu, hingga fenomena “halusinasi AI”.

“Karena itu, wartawan masa depan dituntut memiliki kemampuan verifikasi berlapis, literasi data, serta kemampuan berpikir kontekstual yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI,” tegas Mega mengingatkan jurnalis untuk tidak menyamakan sekadar korelasi dengan kausalitas. (NU-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *