Sebagaimana yang kita pahami, dalam pergaulan dan berinteraksi sehari hari tentu kita tidak luput dari sikap berselisih pendapat, berbeda pandangan.
Sikap berbeda pendapat adalah manusiawi, sikap marah juga manusiawi. Sebab selisih pendapat juga pernah terjadi kepada sahabat terbaik Rasulullah SAW, yaitu sahabat Abu Bakar as Siddiq dengan sahabat Umar bin Khattab al Faruq.
Keduanya bahkan sempat memendam amarah kepada masing-masingnya, meskipun tidak sampai satu hari, keduanya kemudian saling meminta maaf, saling menyesal penuh haru. Hanya Rasulullah SAW kemudian mengingatkan ‘Umar ra, bahwa siapapun tidak berhak untuk marah kepada Abu Bakar ra, sebab beliau adalah manusia termulia sesudah Rasulullah SAW.
Perselisihan pendapat dua sahabat Rasulullah adalah pelajaran bahwa perbedaan pendapat jangan sampai menjebak kita untuk tidak saling menyayangi.
Tidak ditemukan penjelasan dalam hal apa sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar radiyallah a’nhuma berselisih. Hanya yang jelas keduanya pernah benar-benar terlibat perselisihan.
Disadur dari Shahih al-Bukhari karya Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim Mughiroh bin Bardizbah al Ju’fi al Bukhari yang dikenal dengan nama Imam Bukhari. Hadits nomor 3656). Dan kitab Al-Mu’jamul-Kabir karya Abul-Qasim Sulaiman bin Ahmad al-Lakhmiy ath-Thabrani yang dikenal dengan nama Imam ath-Thabrani.
Disebutkan bahwa, sahabat Abu-Darda` ra menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ
Dari Abu-Darda` ra, ia berkata: Ketika aku duduk bersama Nabi SAW.
إِذْ أَقْبَلَ أَبُو بَكْرٍ آخِذًا بِطَرَفِ ثَوْبِهِ حَتَّى أَبْدَى عَنْ رُكْبَتِهِ
Tiba tiba Abu Bakar datang sambil memegang ujung pakaiannya sehingga tersingkap lututnya.
فَقَالَ النَّبِيُّ أَمَّا صَاحِبُكُمْ
Nabi SAW saat itu bersabda: Sahabat kalian Abu Bakar nampaknya sedang sedang ada masalah.
فَقَدْ غَامَرَ فَسَلَّمَ وَقَالَ إِنِّي كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ ابْنِ الْخَطَّابِ شَيْءٌ فَأَسْرَعْتُ إِلَيْهِ
Kemudian Abu Bakar berucap salam dan dan ia mengatakan: Sungguh diriku dan putra al-Khattab sedang ada dalam satu masalah.
ثُمَّ نَدِمْتُ فَسَأَلْتُهُ أَنْ يَغْفِرَ لِي فَأَبَى عَلَيَّ فَأَقْبَلْتُ إِلَيْكَ
Benar benar aku sedang marah kepada-nya (Umar bin Khatab) tapi aku sangat menyesal, Aku memohon maaf kepadanya tetapi beliau enggan memaafkan diriku. Maka sekarang aku mengadu kepadamu ya Rasulullah.
فَقَالَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ ثَلَاثًا
Nabi SAW kemudian bersabda: “Allah mengampunimu, Allah Mengampunimu, Allah Mengampuni wahai Abu Bakar Beliau menyabdakannya sampai tiga kali.
ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ نَدِمَ فَأَتَى مَنْزِلَ أَبِي بَكْرٍ فَسَأَلَ أَثَّمَ أَبُو بَكْرٍ
Kemudian ‘Umar juga merasa menyesal. Ia datang ke rumah Abu Bakar dan bertanya apakah Abu Bakar ada?
فَقَالُوا لَا فَأَتَى إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَسَلَّمَ
Keluarganya menjawab tidak ada. Lalu Umar bin Khattab, sangat sedih lantas datang kepada Nabi SAW dan mengucapkan salam.
فَجَعَلَ وَجْهُ النَّبِيِّ يَتَمَعَّرُ حَتَّى أَشْفَقَ أَبُو بَكْرٍ فَجَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ
Tetapi wajah Nabi SAW seolah menyimpan rasa muram karena tak berkenan melihat Umar berselisih dengan Abu Bakar, sehingga Abu Bakar merasa takut dan ia pun lantas bersimpuh berlutut di hadapan Nabi SAW, berisak tangis menyesali dirinya
فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ أَنَا كُنْتُ أَظْلَمَ مَرَّتَيْنِ
Sambil berkata: duhai Rasulullah, sungguh diriku yang paling zhalim, sungguh diriku yang paling zhalim.
فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ
Nabi SAW kemudian bersabda: Sungguh Allah telah mengutusku kepada kalian tetapi kalian dahulu berkata ‘engkau berdusta’ sementara Abu Bakar berkata: ‘kau benar wahai Rasulullah’.
وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُوا لِي صَاحِبِي مَرَّتَيْنِ فَمَا أُوذِيَ بَعْدَهَا
Ia telah membagi jiwa raga dan hartanya bersamaku. Pantaskah kalian menelantarkan sahabatku. Maka (Abu Bakar) tidak pernah lagi disakiti sesudah itu. (Shahih al-Bukhari, hadits 3656).
Dalam riwayat at-Thabrani disebutkan bahwa setelah Nabi saw menegur ‘Umar ra atas sikapnya yang tidak menghiraukan permohonan maaf Abu Bakar ra, ‘Umar ra kemudian berkata:
وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَا مِنْ مَرَّةٍ يَسْأَلُنِي إِلَّا وَأَنَا أَسْتَغْفِرُ لَهُ، وَمَا مِنْ خَلْقِ اللهِ بَعْدَكَ أَحَدٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ،
Demi Yang mengutusmu dengan haq wahai Nabi, jangan pernah lagi Abu Bakar memohon maaf kecuali aku yang akan memohonkan ampun untuk beliau. Dan tidak ada satupun ciptaan Allah yang aku cintai sesudah engkau ya Rasulullah lalu kemudian cintaku kepadanya (Abu Bakar).
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَأَنَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، مَا مِنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ
Abu Bakar ra pun berkata demikian: “Demi yang mengutusmu dengan haq, tidak ada seorang pun sesudah engkau ya Rasulullah yang lebih aku cintai kemudian dirinya (Umar Bin Khattab). (al-Mu’jamul-Kabir at-Thabrani no. 13383).
Pembaca budiman yang saya banggakan.
Maka patut kita ingat bahwa dalam setiap amal kebaikan yang kita kerjakan pasti ada ujian dan godaannya, dalam kondisi itulah Allah SWT mengingatkan sebagaimana firmanNya ;
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa godaan dari setan, mereka langsung ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS. al-A’raf [7] : 201).
Peristiwa perselisihan dua sahabat terbaik nabi semoga menjadi i’ribar kita, bahwa perselisihan yang tidak produktif dapat mengakibatkan kerugian dan keretakan. Rasa bersalah kedua sahabat terbaik Rasulullah SAW, dimana Abu Bakar sampai tidak sanggup memikul dan harus berlutut keharibaan Rasulullah, karena enggan di maafkan Umar, sementara sahabat Umar kesana kemari mencari Abu Bakar untuk menyatakan penyesalannya, sampai mendeklarasikan tidak akan lagi Abu Bakar memohon maaf, hingga ia lebih dahulu memohon maaf kepada Abu Bakar.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa, perselisihan (Ikhtilaf) tidak boleh melampaui keutuhan persaudaraan dalam keimanan (ukhwah). Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk selalu menjaga dan merawat tali persaudaraan kita sesama muslim, sesama warga bangsa dan sesama umat manusia.
