Kabid Industri Berjibaku Pertahankan Budaya Sasak “Bulan Bekurung” Ditengah Kemajuan Iptek

Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Budaya Sasak “Bulan Bekurung” atau sering juga dikaitkan dengan momen bulan tertentu dalam penanggalan adat, akhir akhir ini budaya sasak “Bulan Bekurung” sudah mulai hilang.

Istilah “Bulan Bekurung”, di khususkan buat perempuan yang sudah akil baligh / menjelang dewasa.

Kepala Bidang (Kabid) Industri pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian Loteng Baiq Yuliana Safitri mengatakan, pihaknya tidak pungkiri budaya atau bahasa “Bulan Bekurung”, sudah sangat jarang di dengar apalagi di implementasikan.

” Kata “Bulan Bekurung” ini memang jarang saya dengar, apalagi di implementasikan,” cetusnya, Jumat (8/5).

Sudah jarang ia dengar lanjutnya, pihaknya tidak mengerti apa yang menyebabkannya. Dari itulah pihaknya mencoba untuk menggugah masyarakat untuk bisa menghidupkan budaya ” Bulan Bekurung” apalagi di era Informasi dan Teknologi (Iptek).

“Untuk memulaikan budaya ini, ia kita coba dari diri sendiri sambil kita sosialiasikan kepada masyarakat dengan pelan pelan,” bebernya.

Dikatakan, jika berkaca dari tujuannya dulu, jika budaya “Bulan Bekurung” di implementasikan itu sangat berdapal pada pendidikan rumah tangga, dimana selama sebulan si gadis diajarin masak, ngurus rumah, tata krama, ngaji, dan ilmu jadi istri/ibu oleh ibu/bibi/tokoh perempuan.

Selanjutnya budaya ini bisa juga berimbas kepada menjaga kehormatan, dengan cara jarang keluar rumah biar terhindar dari fitnah sebelum nikah.

Bukan hanya itu saja, “Bulan Bekurung” juga berimbas pada perawatan diri, artinya selama menjalankan budaya ini bisa dimanfaatkan untuk ritual luluran, mandi rempah, sanggul, biar tambah cantik dan siap jadi “mangkung” (gadis pinangan).

Dan terakhir dari beberapa penjelasan di atas, bisa jadi simbol atau tanda kalau si anak sudah siap dinikahkan secara adat.

“Tradisi ini udah jarang banget dipraktekkan full sebulan karena anak sekolah dan zaman berubah. Tapi di beberapa desa di Loteng dan di Lombok Timur masih ada versi singkatnya 3-7 hari, atau jadi simbolis aja pas mau nikah. Ini kita akan coba pertahankan biar adat budaya sasak tidak luntur dengan kemajuan zaman,” tutupnya. (Nu-01).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *