Aena Parilona adalah salah seorang siswa yang saat ini akan masuk di kelas VI SDN 2 Sengkol Kecamatan Pujut Lombok Tengah.
Masih duduk di kursi sekolah dasar, anak kelahiran Praya 17-05-2014 ini, sudah mampu mengekspresikan diri, sekaligus mampu mengharumkan nama SDN 2 Sengkol di tingkat Kabupaten Lombok Tengah dalam lomba Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FSL3N). Keberhasilan adik Aena Parilona, jadi bukti kalau sekolah di pinggiran, jangan di anggap sebelah mata, buktinya siswa SDN 2 Sengkol Kecamatan Pujut Lombok Tengah, yang jauh dari pusat kota, datang sebagai juara di lomba Tari dedare Nyesek di FSL3N tingkat Kabupaten Lombok Tengah.
Adapun sejarah dari Tari Dedare Nyesek adalah tarian kreasi baru dari Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tarian ini menceritakan tentang gadis-gadis Sasak (Dedare) yang sedang melakukan aktivitas menenun (Nyesek). Tarian ini berasal dari Desa Pringgasela di Lombok Timur, yang bertujuan memperkenalkan warisan budaya menenun khas daerah tersebut.
Sejarah dan Makna Tari Dedare Nyesek menggambarkan betapa telaten dan anggunnya para perempuan Sasak saat menenun kain tradisional. Dalam tarian ini, gerakan para penari menirukan setiap tahapan dalam proses menenun, mulai dari memintal benang, menyusun alat tenun, hingga merangkai motif yang indah. Tari ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk apresiasi dan pelestarian terhadap karya seni kriya.
“Saya sengaja mengambil lomba Tari Dedare Nyesek, ingin membuktikan kalau budaya sasak harus kita jaga dan kami dari sekolah pelosok mampu mempertahankan budaya ini, di pentas lomba FSL3N tingkat Kabupaten Lombok Tengah, di posisi Juara Tiga,” katanya usai menerima hadiah dan piagam penghargaan, Senin (6/7).
Tidak mendapatkan juara pertama lanjut anak dari Dian Noviana, juara Tiga baginya itu sangat membanggakan, pasalnya, dalam lomba ini di ikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari seluruh SD se Loteng. Dan pihaknya yakin masing-masing peserta sudah pasti pilihan semua.
Sehingga pihaknya sangat bangga bisa masuk di posisi ke Tiga. “Tidak dapat Juara Satu, itu tidak masalah bagi saya, sebab puluhan peserta adalah pilihan semua, sehingga sangat saya syukuri dan saya bangga di posisi ke Tiga, mampu mengalahkan peserta yang terbaik utusan masing-masing sekolah dasar se Loteng,” bangganya.
Di tanya soal apa alasannya ikit dalam lomba menari, Anak dari Dian Noviana ini mengatakan, selain ingin mempertahankan budaya sasak di tengah teknologi modren saat ini, secara kebetulan di sekolah seni menari Dedare Nyesek, salah satu ekstrakurikuler yang di ajarkan. Sehingga kesempatan untuk ikut dalam lomba FSL3N, ia tidak sia siakan, mengingat skill menari yang diajarkan gurunya sudah ia kuasi.
“Kan sia sia jika saya tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk unjuk kreasi, makanya saya ikut tampil dan alhamdulillah juara Tiga,” ungkapnya.
Selanjutnya atas prestasi ini, pihaknya sampaikan ucapan terimakasih kepada para guru, khususnya guru tutorial seni di sekolah, yang tak kenal lelah terus memberikan pembinaan hingga pihaknya bisa mengenal seluruh gerakan seni tari Dedare Nyesek. Terimakasih pula ia sampaikan kepada ibundanya tercinta, yang terus memberikan semangat dan motivasi, termasuk kepada teman-temannya di sekolah.
Atas prestasi ini, pihaknya juga mengharapkan bagi teman temannya untuk tidak patah semangat, kendati sekolah tidak di jantung kota, namun bukan berarti kesempatan untuk mengukir prestasi tertutup. Di lomba FSL3N tingkat Kabupaten ini, jadi bukti siswa pinggiran mampu membawa pulang prestasi kendati tidak di posisi juara pertama.
“Mari kita buktikan, kalau sekolah kita yang jauh dari kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Tengah, juga mampu berkreasi dengan prestasi di panggung Kabupaten,” tutupnya. (**)
