Cerita Perjalanan Kanit Gakkum Laka Lantas Polres Loteng, Ditengah Tugasnya Sebagai Abdi Negara Nyambi Sopir Grab

Masing-masing orang punya karakter dan pengalaman hidup sendiri-sendiri, ada yang berkarakter gengsi ada juga yang berkarakter santai tapi beruang. Demikian juga pengalaman hidup, masing-masing orang pastinya punya pengalaman berbeda-beda. Misalnya Kanit Gakkum Laka Lantas Polres Loteng, punya karakter dan pengalaman hidup, terbilang cukup unik, sebagai anggota kepolisian nyambi jadi sopir grab, Tapi yang pasti ada alasan kenapa harus menggeluti pekerjaan jadi sopir grab.

Berikut paparan ntbupdate.com

SAPARUDDIN
LOMBOK TENGAH

SENI hidup memang tidak ada yang bisa menyangka nyangka, pekerjaan yang sulit diprediksikan, pun bisa terjadi, sebut saja seperti pekerjaan yang pernah dilakukan IPDA Sasmita Adika Candra Kanit Penegakan Hukum (Gakkum) Laka Lantas Polres Lombok Tengah.

Diam diam ternyata, sang perwira ini di tengah kesibukannya sebagai aparat, ternyata pernah menjadi seorang sopir grab di Bandara Internasional Zaenuddin Abdul Madjid (Bizam) Lombok, evisentrum Mataram, Mall dan beberapa titik keramaian lainnya.

Padahal jika dilihat dari segi tugas sebagai anggota kepolisian, yang memiliki tugas cukup padat, namun ternyata mampu membagi waktu dan bisa menyembunyikan identitasnya sebagai aparat penegak hukum, ketika berhadapan dengan para penumpang.

Selain itu, karakter dan kebiasaan aparat kepolisian seperti Kanit Gakkum Laka Lantas Polres Lombok Tengah, sangat jarang dan malah baru kali ini, ada aparat kepolisian, terkhusus di jajaran Polres Lombok Tengah.

Mungkin, dengan jabatan sebagai aparat kepolisian, tentunya masih berfikir 100 kali mau menggeluti pekerjaan sebagai sopir grab, padahal pekerjaan itu, pekerjaan mulia dan bisa bikin dompet gemuk. Selain itu, pengalaman dan kenalan juga pasti banyak.

Namun kembali ke diri masing-masing, sebab setiap orang punya seni hidup berbeda beda, dan bisa saja dengan seni itu hidup jadi tenang dan indah, sebab apapun yang dilakukan, tentunya itu tidak lepas dari rasa senang dan hoby, jadi sulit bisa diprediksikan.

IPDA Sasmita Adika Candra Kanit Penegakan Hukum (Gakkum) Laka Polres Lombok Tengah, salah satu contoh. Di lihat dari pangkat dan jabatan, terbilang sudah mapan, dan bisa dikatakan di luar nalar, jika di samping berprofesi sebagai polisi, namun pernah di luar bekerja sebagai sopir grab.

“Jadi sopir grab di Bizam Lombok, itu saya geluti selama 5 tahun, dari tahun 2017 sampai 2021 dan saat itu masih berpangkat Bintara, ternyata sebagai sopir grab banyak pengalaman yang saya dapatkan, mulai dari dompet jarang kempes, kenalan banyak termasuk pengalaman juga, tapi sekarang sudah tidak lagi, sebab sekarang diberikan amanah baru sebagai Kanit Gakkum Laka Lantas Polres Lombok Tengah, banyak pekerjaan sehingga tidak bisa atur waktu, lebih banyak waktu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat tutur perwira berpangkat IPDA ini kemarin.

Dikatakan, semasih jadi sopir grab, banyak pengalaman yang ia dapatkan, mulai dari urusan dompet, pengalaman dan sahabat. Untuk urusan dompet kala itu, selama satu bulan bisa dapat Rp 15 juta.

“Alhamdulillah bisa dapat Rp 15 juta. Jumlah ini tentunya sangat besar bagi saya, jika disandingkan dengan jumlah gaji untuk satu bulan sebagai anggota kepolisian saat itu, jumlah tersebut, pertama dari penumpang dan ke dua dari aplikasi,” tutur perwira kelahiran Masbagek 1987 ini.

Dalam menjalankan pekerjaan sebagai sopir grab, tentunya pihaknya harus ekstra membagi waktu agar kewajiban wajib sebagai anggota tidak terganggu. Misalnya saja, usai Dinas atau lepas piket, pihaknya langsung jos nongkrong di bandara, bergabung dengan sopir grab lainnya, menunggu penumpang yang turun dari pesawat.

“Kadang saya antar tamu sampai di luar Kabupaten Lombok Tengah Lo, tapi yang paling sering saya antar tamu di dalam kabupaten, seperti ke hotel Dinda Ayu, Poktekpar, kantor Bupati dan yang lainnya,” ujarnya.

Selian itu, di episentrum Mataram, pihaknya juga sering parkir menunggu penumpang yang pulang belanja
tamu yang ia antar

“Yang jelas, selama melaksanakan pekerjaan jadi sopir grab, Pekerjaan wajib tetap jalan, kita harus profesional mengatur waktu,” bebernya.

Di tanya selama menjalankan profesi sebagai sopir penumpang tidak ada yang tau kalau dirinya anggota ? inspektur polisi dua ini mengaku, jarang penumpang yang tau, terkecuali ada satu penumpang dari luar daerah, ketika di jemput di bandara.

Di mana penumpang tersebut sudah paham dengan gerak gerik aparat, dia selalu memperhatikan tingkah lakunya, setelah sampai di tujuan, sontak dia bilang, mohon maaf pak, bapak ini seorang aparat, kala itu dirinya tetap ngotot bilang kalau dirinya seorang sopir grab.

Tidak sampai di sana, penumpang ini malah ngotot mau melihat identitas dirinya, saat itu ia berfikir, kalau Ndak jujur masuk perbuatan bohong, akhirnya ia pun jujur.

“Saya sempat tanya, kenapa mba ngotot sekali, dia jawab bapak saya seorang TNI dan semua gerak geriknya saya hafal dan gerak geriknya sama dengan bapak. Akhirnya saya mengangguk aja,” paparnya.

Ditanya apakah tidak malu sebagai sopir padahal sudah jadi aparat ? Alumnus magister hukum Unram ini mengaku, selama pekerjaan itu positif dan bermanfaat, rasa gengsi itu ia lepas, semua mengalir seperti air. Sebab pekerjaan sebagai grab, di samping dapat keuntungan, banyak Sahabat dan pengalaman, juga pekerjaan mulia.

Di tanya apa yang bikin tertarik jadi sopir grab. Ia menceritakan, tahun 2006 silam, di Cikeas saat tes masuk anggota pasukan khusus PBB. Selama pendidikan Saat itu ia sering pesan makanan via online dan diantarkan sopir grab, karena sering pesan makanan dan itu itu saja yang ngantar. Saking sering diantarkan, pihaknya sempat mengajak sopir grab tersebut ngobrol.

Di saat asyik ngobrol, sempat pihaknya bertanya masalah pengalaman jadi sopir grab, termasuk ia tanya pekerjaan lain selain jadi sopir. Hal yang tak pernah di sangka sangka, ternyata sopir grab itu adalah anggota TNI. Obrolan semakin menarik, dan pihaknya sempat bertanya berapa penghasilan sampai cara atur waktu. Dari sana pihaknya dapat ilmu dan pengalaman banyak, sehingga usai pendidikan jadi anggota khusus PBB, ia coba perjalanan anggota TNI ini, ternyata banyak yang ia dapatkan.

Mulai dari isi dompet, pengalaman hingga banyak sahabat. “Tahun 2021 lalu, profesi jadi sopir saya lepas, sebab sekarang diberikan amanah baru sebagai Kanit Gakkum Laka Lantas Polres Lombok Tengah, banyak pekerjaan sehingga tidak bisa atur waktu, lebih banyak waktu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” tutupnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *