Khutbah, “Belajar Dari Orang Kecil” Oleh: Habib Ziadi Thohir

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ،وأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْعظیم:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah

Dikisahkan bahwa Amirul Mukminin Harun al-Rasyid mengutus seseorang untuk memanggil Muhammad bin as-Sammak. Ia ingin berjumpa dengannya karena khalifah ingin mendengar doa-doanya yang bagus dan sering diucapkan untuk beberapa orang khusus dan masyarakat umum.

Setelah dipersilahkan oleh Harun Al Rasyid, Ibnu Sammak lalu berkata, “Apa yang Amirul Mukminin dengar tentang diri saya, maka itu semata-mata berkat kemurahan Allah yang masih berkenan menutupi kelemahan dan kejelekan saya. Seandainya bukan karena Allah yang masih berkenan menutupi kelemahan, dan kejelekanku. Niscaya tidak akan ada pujian sama sekali buatku, dan niscaya engkau tidak akan sudi bertemu dengan saya dengan hati senang dan suka. Hal itu pulalah yang menjadikan saya masih bisa duduk di hadapanmu, wahai Amirul Mukminin. Demi Allah, sungguh saya tidak pernah melihat wajah seelok wajahmu, wahai Amirul Mukminin. Untuk itu, jangan sampai engkau membuat wajah engkau itu terbakar api neraka.”
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ibnu Sammak, Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu. Beliau pun kemudian minta untuk diambilkan air minum. Belum sempat meminum airnya, Ibnu Sammak tiba-tiba berkata kepada Harun al-Rasyid, “Izinkan saya mengatakan suatu hal kepadamu.” Ibnu Sammak kemudian lanjut berkata, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya engkau tidak bisa mendapatkan segelas air tersebut melainkan harus dengan dunia seisinya. Apakah engkau akan menebus segelas air itu dengan dunia seisinya supaya engkau bisa mendapatkannya?” “Ya saya akan lakukan itu.” Jawab Harun al-Rasyid. Mendengar jawaban tersebut, Ibnu Sammak mempersilahkan Harun al-Rasyid minum sambil mendoakan, “Semoga Allah memberi keberkahan untukmu.” Setelah Harun al-Rasyid selesai minum, Ibnu Sammak kembali berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya engkau tidak bisa mengeluarkan air yang telah engkau minum tadi dari tubuhmu melainkan harus dengan dunia seisinya. Apakah engkau akan membayarnya dengan dunia seisinya, supaya engkau bisa mengeluarkannya dari tubuhmu?” “Ya, saya akan melakukan hal itu.” Jawab Harun al-Rasyid Mendengar jawaban Harun al-Rasyid, Ibnu Sammak kembali bertanya kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin, lantas apa yang bisa dilakukan terhadap seteguk air yang ternyata lebih baik dan lebih berharga darinya?” Mendengar hal tersebut, Harun al-Rasyid pun menangis tersedu-sedu.

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah.
Dialog ini sebagaimana terdapat dalam ‘Uyun al-Hikayat min Qashash ash-Shalihin wa Nawadir az-Zahidin karya Ibnu al-Jauzi.

Ibnu Sammak nama lengkapnya adalah Abu ‘Amr ‘Utsman bin Ahmad Al-Baghdadi Al-Daqaq, lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Sammak. Beliau adalah seorang ulama besar ahli hadits di Baghdad. yang diakui kedalaman ilmuannya. Memilih jalan hidup layaknya orang kecil dan biasa-biasa saja.

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah.
Banyak orang kecil berpribadi dan berjiwa besar serta berhati mulia. Sering kita lebih mudah menemukan permata kebaikan, ketulusan dan kejujuran di hati pada orang-orang kecil.
Orang-orang kecil dan sederhana yang jujur dan ridha pada takdir ilahi sering menjadi guru bagi kita semua.

Allah berfirman:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” [Qs. Qaf: 37]

Nasehat yang bertebaran di sekitar kita, baik yang bentuknya ucapan atau perbuatan seseorang hendaklah kita merenunginya dengan baik. Itu adalah peringatan dan pelajaran yang kadang tidak ddapati di bangku sekolah dan kuliah.
Orang kecil berbuat tanpa landasan teori berbeda dengan orang besar.
Mereka bersikap berdasarkan pengalaman hidup. Kegetiran, kepedihan, bercampur dengan tawakkal dan ketulusan bersenyawa dalam batiniah mereka. Berkata tanpa teori, langsung dengan perbuatan nyata.

Orang-orang besar baik pemimpin (pejabat), orang kaya, tokoh masyarakat, bahkan agamawan sekalipin harus mengambil ilmu kebijaksanaan dari kehidupan siapa saja, termasuk orang kecil. Pengalaman semacam itu mengajarkan untuk rendah hati, membuka telinga, dan tentunya membuka jendela hati.

Sepatutna ornng besar mendekati dan mendengar “curhatnya” orang kecil. Simak aspirasi mereka. Bantu kebutuhan mereka. Jangan mendatangi mereka saat “ada maunya” saja, dan melupakan mereka selepas “maunya” terpenuhi.

Ma’asyiral muslimin hafizakumullah.

Kisah di atas juga menunjukkan jangan terlalu terperdaya dengan kesenangan dan kemakmuran hidup. Dunia tidak lebih dari kenikmatan mereguk segelas air. Haus itu lekas reda dan akan haus lagi beberapa jam kemudian.

Kenikmatan yang sementara itu bisa hilang seketika berganti dengan derita. Untuk menebus derita itu, apapun bersedia dilakukan apa saja demi mengembalikan kenikmatan yang hilang. Begitu seterusnya.

Kaisar Romawi Marcus Aurelius dalam sebuah tulisan pernah mengatakan, “Biarlah gagasan dan pengetahuan tentang kepastian kematian membuatmu rendah hati.”

Sebagai orang yang paling berkuasa di dunia pada saat itu, Aurelius tahu pentingnya kerendahan hati. Konon ia dikabarkan memiliki seorang pria yang mengikutinya ke mana-mana untuk selalu mengingatkannya, “kamu hanyalah seorang manusia” Hal ini agar dia tidak membiarkan keangkuhan akan kekuatannya.

Kita juga jangan bangga dengan pujian orang lain kepada kita, karena orang lain yang sedang melihat atau menganggap diri kita ini baik. Itu semua karena Allah SWT sedang menutupi aib atau keburukan-keburukan kita. Oleh karena itu, jangan terbiasa membuka aib orang lain. Karena sejatinya, diri kita ini juga penuh dengan aib. Hanya saja sedang ditutupi berkat rahmat Allah SWT.

فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لَآ إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *