Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Air mata haru dan syukur pecah di sebuah rumah sederhana di Lombok Tengah (Loteng). Maulana Galih Faqih, alumni MAN 1 Loteng angkatan 2025-2026, resmi diterima di Program Studi Pendidikan Dokter S1 Universitas Mataram tahun 2026, Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Yang membuat kisah Galih istimewa: ia seorang anak yatim. Ayahnya telah berpulang ke rahmatullah sejak ia duduk di bangku SD. Namun keterbatasan tak membuat mimpinya surut. Lewat jalur prestasi dan beasiswa, Galih kini mengantongi _golden ticket_ kuliah gratis di fakultas kedokteran paling bergengsi di NTB.
Dari Meja Belajar Sederhana Lahir Calon Dokter
Sejak ayahnya wafat, Galih tinggal bersama ibu yang bekerja sebagai pedagang kecil di pasar. Setiap pagi sebelum berangkat ke MAN 1 Loteng, ia bantu ibu beres-beres dagangan. Pulang sekolah, buku tak pernah lepas dari tangannya.
“Galih itu anaknya pendiam tapi tekunnya luar biasa. Nilai mapel sains selalu top. Tahfiznya juga jalan. Prestasinya banyak, dari olimpiade sains sampai lomba KIR tingkat provinsi,” kisah wali kelasnya di MAN 1 Loteng.
Kepala MAN 1 Loteng, H. Masdiono, S.Ag.M.Pd menyebut Galih adalah potret siswa madrasah sejati, cerdas otaknya, kuat imannya. “Kami di madrasah tidak hanya ajarkan rumus dan teori. Kami tanamkan mental pejuang. Bahwa yatim bukan alasan untuk menyerah. Bahwa Allah akan angkat derajat orang berilmu,” ujarnya bangga.
Lolos Kedokteran Unram, Dapat Beasiswa Pendidikan Penuh
Tahun ini persaingan masuk Pendidikan Dokter Unram sangat ketat. Ribuan pendaftar dari seluruh Indonesia berebut kursi. Galih lolos lewat jalur SNBP dengan nilai rapor dan portofolio prestasi yang nyaris sempurna.
Tak hanya lolos, Galih juga ditetapkan sebagai penerima beasiswa KIP Kuliah dan bantuan pendidikan dari Pemprov NTB untuk anak yatim berprestasi. Artinya: biaya kuliah, biaya hidup, hingga biaya penunjang praktikum kedokteran sudah ditanggung negara.
“Alhamdulillah, ini jawaban dari doa ibu dan guru-guru saya setiap malam. Saya mau jadi dokter biar bisa bantu orang sakit seperti almarhum bapak dulu. Biar ibu tidak capek-capek lagi jualan di pasar,” ucap Galih lirih saat ditemui di sela sela acara syukuran dan perpisahan, Sabtu (9/5).
Madrasah: Tempat Anak Yatim Miskin Bisa Mimpi Setinggi Langit
Kisah Galih menampar stigma. Bahwa madrasah adalah tempat bagi semua kalangan, terutama yang dhuafa, untuk mengakses pendidikan berkualitas. Di MAN 1 Loteng, Galih dapat pembinaan intensif gratis, bimbel masuk PTN gratis, hingga pendampingan beasiswa.
“Guru-guru MAN 1 Loteng itu seperti orang tua kedua. Kalau saya _down_, mereka yang semangati. Kalau butuh buku, mereka yang carikan. Kalau daftar beasiswa, mereka yang bimbing dari nol,” tutur Galih.
Bagi ibunya, MAN 1 Loteng adalah berkah. “Saya janda, penghasilan pas-pasan. Tapi anak saya bisa sekolah bagus, bisa lulus kedokteran, tanpa saya bayar mahal. Maturnuwun sanget untuk semua guru MAN 1 Loteng,” katanya sambil menyeka air mata.
Pesan untuk Siswa dan Orang Tua: “Yatim Bukan Halangan, Madrasah Adalah Jalan
Kini Galih bersiap masuk dunia kedokteran. Cita-citanya satu: jadi dokter yang peduli dhuafa, buka klinik gratis di kampungnya.
Kepala MAN 1 Loteng berpesan ke seluruh siswa: “Lihat Galih. Yatim, ekonomi pas-pasan, tapi bisa tembus kedokteran. Kuncinya 3: takwa, ikhtiar, dan jangan malu minta bimbingan guru. Madrasah ini rumah kalian. Kami siap antar kalian setinggi langit.”
Untuk masyarakat dan orang tua siswa, kisah Galih adalah bukti. Bahwa menitipkan anak di madrasah adalah investasi akhirat dan dunia. “Di sini anak diajarkan ilmu dunia, dikuatkan ilmu akhirat. Lulus, insyaAllah berakhlak, berprestasi, dan bermanfaat,” tutup Kepala Madrasah.
Selamat jalan menuntut ilmu, Dokter Galih. Doa guru, doa ibu, dan doa almarhum bapak mengiringi langkahmu. Dari madrasah di Loteng, untuk Indonesia sehat.
MAN 1 Loteng Madrasah Hebat, Bermartabat, Melahirkan Generasi Emas (Nu-01).
