SMKN 1 Praya MoU Dengan BSBS, Soal Pengelolaan Sampah

Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Praya Lombok Tengah (Loteng), bersama Bank Sampah Bintang Sejahtera (BSBS), melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepakatan, dalam hal pengelolaan sampah.

Penandatanganan pengelolaan sampah tersebut, di lakukan di Hotel SMKN 1 Praya, Sabtu (8/2).

Direktur Bank Sampah Bintang Sejahtera
Febriarti Khairunnisa mengatakan, kerjasama dalam hal pengelolaan sampah di SMKN 1 Praya Loteng, ini adalah kali pertama dilakukan di lingkungan sekolah.

“Bicara kepedulian sampah di lingkungan sekolah, saya berani katakan SMKN 1 Praya, sekolah yang paling peduli dan bisa memanfaatkan sampah jadi cuan,” katanya.

Kenapa ia katakan bisa menghasilkan cuan, sebab dalam kerjasama ini, pihak BSBS dengan SMKN 1 Praya, saling menguntungkan.

Artinya sampah sampah yang terkumpul di sekolah, itu akan dibayar pihak BSBS, sesuai ketentuan kesepakatan dalam MoU yang sudah disepakati antara dua belah pihak.

“Saya acungkan jempol sama keluarga besar SMKN 1 Praya, sampah yang di injak injak atau di buang, bisa jadi uang, makanya kita saling menguntungkan,” bebernya.

Selanjutnya penandatanganan ini, berlaku hanya satu tahun, jika nanti dalam perjalanan tetap lancar dan saling menguntungkan, MoU ini kita sambung lagi.

Ditanya apa yang menjadi dasar kenapa memilih SMKN 1 Praya jadi lokasi MoU tentang pengelolaan sampah, Febriarti menjelaskan, dari awal pihaknya mencoba membangun kesadaran, baik kepada pendidik ataupun siswa.

Dalam perjalanannya, alhamdulillah sampah yang terkumpul sampai ber ton ton.

Setelah itu, baru masuk ke tata cara mengembangkan modul terkait pengelolaannya dan alhamdulillah di masa percobaan sebelumnya, baik pihak BSBS dengan sekolah sudah bisa saling menguntungkan.

“Di masa percobaan saja, alhamdulillah kita sudah saling menguntungkan, insyaallah dalam satu tahun ini mudah mudahan keuntungan dua belah pihak semakin berlipat ganda,” harapnya.

Dikatakan, bergelut dalam pengelolaan sampah, berkaca pada negara Adi Daya Amerika Serikat, di mana di sana membangun kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah, di mulai dari umur 50 tahun. Kenapa tidak di sini, membangun kesadaran dimulai dari siswa.

Sehingga hal inilah yang membuat dirinya termotivasi, di Amerika Serikat masyarakat yang sudah lanjut usia bisa di bina, kalau di sini kenapa tidak. “Di AS masyarakat yang lanjut usia bisa di bina, lalu kita di sini anak anak yang masih sehat bugar, kenapa kita tidak bisa, dari itulah yang membuat dirinya termotivasi dalam hal pengelolaan sampah,” paparnya.

Imbas dari itu pihaknya juga berharap, dari hal terkecil anak anak ini di masa depannya mampu berfikir untuk mandiri. ” Kita dorong manset anak anak kita dari sekarang, untuk menciptakan Sumber Daya Manusia yang Mandiri,” ungkapnya.

Febriarti menambahkan, selain di sekolah, BSBS sebelumnya juga aktif melakukan pengelolaan sampah, dengan nama Gerakan Desa Sirkular (Gadis) NTB, kelola sampah dari sumbernya. “Alhamdulillah program Gadis NTB, sudah jalan,” cetusnya.

Sementara itu Kepala SMKN 1 Praya Kasman mengaku bangga dan bahagia BSBS, telah menjadikan SMKN 1 Praya jadi pilot project pengelolaan sampah pertama di Loteng.

“Alhamdulillah kami di SMKN 1 Praya, jadi yang pertama BSBS melakukan MoU dengan sekolah, dalam hal pengelolaan sampah, tentunya ini jadi penyemangat baru dalam mendidik anak untuk mandiri,” katanya.

Selanjutnya atas kepercayaan ini tentunya jadi penyemangat untuk terus memaksimalkan program pengelolaan sampah, dalam rangka membantu pemerintah daerah dalam hal pengelolaan sampah.

“Ini namanya program sekali kerja dapat dua keuntungan, pertama mendukung pemerintah dalam hal pengelolaan sampah, ke dua dapat untung dari penjualan sampah,” ungkapnya.

Dijelaskan, mekanisme pengumpulan sampah pihaknya bersama para wali kelas, sepakat membagikan kantong sejenis karung goni kasar, kepada para siswa.

Karung karung tersebut, dijadikan lokasi tempat penaruhan barang barang bekas, yang ditemukan di lingkungan sekolah.

“Masing masing kelas, sudah ada petugas khusus dan langsung di akomodir oleh wali kelas masing-masing,”ujarnya.

Selanjutnya, BSBS datang ke sekolah, sekali seminggu untuk melakukan penjemputan sampah, yang sudah di sediakan masing-masing kelas di tempat yang sudah disiapkan.

“Setelah sampah terkumpul baru datang penjemputan dari BSBS dan itu kita uangkan untuk jadi kas di masing-masing kelas,” paparnyan

Ditanya apakah tumpukan sampah itu berasal dari lingkungan sekolah, Kasman mengaku, pertanyaan ini sempat dilontarkan siswa dan saat itu wali kelas, membolehkan untuk diangkut dan selanjutnya dikumpulkan, lalu diuangkan.

“Untuk menaikkan omset, tidak apa apa anak anak kita bawa sampah itu dari luar, lagian kan mereka sudah diberi karung,” terangnya.

Kasman menambahkan, setelah program ini berjalan lancar, tidak ada lagi sampah yang berserakan, sebab anak anak selalu sedia untuk memungut, mengingat semakin banyak sampah yang dikumpulkan, maka kas di kelas semakin bertambah. “Ini namanya progam Fastabiqul Khairot, pertama kebersihan bagian dari iman dan ke dua bisa mendatangkan cuan,” tutupnya. (nu-01)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *