Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Diduga RSUD Praya Lombok Tengah (Loteng) menolak pasien, dengan alasan Bed penuh, sehingga mengakibatkan perawatan lamban dan pasien meninggal.
Seperti yang dituturkan wakil ketua Komisi IV DPRD Loteng Wirman Hamzani. Ahad (15/12)
Kepada ntbupdate.com ia menuturkan, sejumlah keluarga pasien mengadukan pihak RSUD Praya Loteng, masih belum maximal memberikan pelayanan kepada pasien, sehingga mengakibatkan pasien meninggal.
Di mana salah seorang pasien asal Kecamatan Praya Timur Loteng, sedang dirawat di salah satu Puskesmas. Karena kondisi pasien kritis, akhirnya pihak Puskesmas, segera membuat rujukan ke RSUD Praya. Sebelum dirujuk, petugas Puskesmas, terlebih dahulu berkoordinasi dengan petugas RSUD Praya.
Namun apa yang diterima oleh petugas Puskesmas tersebut, petugas RSUD Praya menolak kedatangan pasien baru.
Dengan dalih Bed di RSUD penuh dan diminta untuk menunggu 2 Jam lagi.
“Petugas Puskesmas sudah menjelaskan, kalau kondisi pasien sangat kritis dan perlu penanganan intensif, namun tetap saja petugas RSUD Praya yang piket siang pada hari Rabu, kekeh tidak menerima dengan alasan BED penuh,” katanya.
Atas informasi tersebut, akhirnya pihak Puskesmas memberikan pertolongan seadanya, setelah menunggu sesuai permintaan, akhirnya pihak Puskesmas merujuk pasien tersebut, namun sayangnya pasien tersebut meninggal dalam perjalanan.
“Semestinya ketika ada pasien yang dilaporkan kritis, pihak RSUD Praya, jangan menunggu waktu, silahkan diterima dan tangani, seperti pasien dari Praya Timur ini, akibat keterlambatan penanganan intensif, akhirnya meninggal,” ungkapnya.
Bukan hanya itu lanjut politisi NasDem ini, hal yang sama juga dilaporkan keluarga Pasien dari Kecamatan Batukliang Loteng. Dimana petugas RSUD Praya, di duga menolak pasien dengan alasan yang sama.
Dan malah pihak RSUD Praya, memerintahkan keluarga pasien untuk pulang ambil Bed, jika mau ditangani.
Mendengar permintaan petugas, keluarga pasien pun pulang dan membawa Bed sesuai yang diminta. Namun malang nasib pasien tersebut, kendati bed sudah disiapkan, namun tetap saja tidak mendapatkan perawatan.
Atas alasan tersebut, menurut anggota dewan yang biasa di sapa Hamzan Halilintar, itu tidak masuk akal. Sebab sebesar RSUD, pihaknya yakin jumlah Bed yang tersedia, tidak akan habis.
Malah pihaknya menilai, petugas jaga atau piket malam itu, yang tidak profesional. Artinya apakah tidak ada cara lain, guna menyelamatkan pasien atau petugas tersebut malas, sehingga Bed di jadikan alasan untuk tidak menerima pasien.
“Kan lucu sekelas RSUD bed nya habis, jika itu benar, apakah tidak ada cara lain yang harus dilakukan, guna menyelamatkan pasien, atau memang petugas malam itu tidak profesional,” herannya. “Baru baru ini saya dengar RSUD Praya naik tipe kelas, tapi masak ada petugas tidak profesional, atau jangan jangan petugas malam itu, petugas hasil perekrutan yang kemarin kemarin diterima, yang di soal sejumlah LSM dan hasil perekrutan tersebut tidak profesional,” sambungnya.
Atas kejadian ini, komisi IV selaku leading sektor RSUD Praya, akan memanggil direktur RSUD Praya untuk menjelaskan yang sebenarnya.
“Kami tidak bangga atas kenaikan tipe kelas RSUD, jika pelayanannya seperti ini, tapi yang jelas kami akan panggil Direktur RSUD Praya, ke ruangan komisi IV, guna kita dengarkan secara langsung, keterangannya,” Tutupnya.
Sementara itu Direktur RSUD Praya dr. Mamang Bagiansyah saat ditanya melalui teks wa terkait persoalan di atas, sampai berita ini dimuat, belum memberikan tanggapan.
Tidak sampai di sana, media ini mencoba menghubungi via telepon WhatsApp, kendati dalam posisi berdering, namun tidak di angkat. (nu-01).
