Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Wakil ketua Komisi IV Wirman Hamzani, bersama anggota DPRD Lombok Tengah (Loteng), melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke RSUD Praya Loteng.
Kedatangan para wakil rakyat tersebut, guna melihat secara langsung pelayanan di Rumah Sakit plat merah ini. Sebab sebelumnya beredar kabar, meninggal nya salah seorang warga asal Dusun Pemondah Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur Loteng, diduga disebabkan, lambannya informasi rujukan dari RSUD Praya, yang diterima petugas Puskesmas Mujur Kecamatan Praya Timur Loteng.
“Tujuan kami hanya ingin tau fenomena rujukan yang sampai saat ini belum optimal,” katanya.
Jika benar alasan konfirmasi balik lamban di sebabkan Bed di RSUD Praya penuh, tentunya pihaknya selaku anggota dewan komisi IV, yang merupakan leading sektor kesehatan.
Akan mengupayakan untuk bisa dianggarkan, sebab RSUD ini adalah kebanggaan masyarakat Loteng. Apabila ada kekurangan dan berdampak terhadap kemaslahatan masyarakat, dewan akan segera mencarikan solusi.
Selanjutnya, jika bed dalam kondisi penuh, mohon kepada para petugas piket di jam apapun, untuk tetap memberikan informasi positif. Sebab selama ini, masukan yang di terima dari sejumlah petugas Puskesmas, petugas piket di RSUD kadang sulit mengangkat telpon dan bahkan pernah direject handphone, ketika ditanya kembali.
“Saya tidak tau pasti apakah laporan itu benar atau tidak, cuman jika benar mohon jangan diulangi, saya yakin kenapa petugas piket di Puskesmas menghubungi petugas piket di RSUD Praya, pastinya ada hal yang mendesak,” paparnya.
Senada di katakan Hermandi ia mengatakan, soal alasan bed full bukan kali ini saja terjadi, namun itu alasan klasik yang tidak pernah ada solusinya.
Selanjutnya, soal koneksi di internal RSUD, pihaknya menilai ada yang tersumbat antara UGD dengan ruangan yang lain. Ini juga perlu dipikirkan solusinya.
Yang paling parah, Sumber Daya Manusia (SDM), petugas masih minim, seperti para petugas suka judes, semestinya para petugas harus lebih ramah menyapa pengunjung.
“Mohon lah, para petugas kita kedepankan kesopanan, suka senyum, menyapa, jangan tunjukkan kejudesan kepada pengunjung, agar para pengunjung senang,” katanya.
Terakhir, pembayaran kapitasi tak sesuai tugas, sebab banyak tugas dokter, malah di bebankan ke perawat, padahal itu bukan tugasnya.
“Yang jelas kedatangan kami, bukan mencari masalah tapi, beberapa persoalan di internal kita selesaikan, biar rumah sakit kesayangan kita ini lebih maju, apalagi sekarang RSUD Praya sudah naik tipe kelasnya, dan tahun 2025 tidak ada masalah dikeluhkan masyarakat,” pintanya.
Sementara itu Direktur RSUD Praya dr. Mamang Bagiansah mengatakan, dalam mengerjakan tugas, petugas bekerja sesuai SOP. Sedangkan soal rujukan, RSUD memakai sistem sisrute yang artinya, Sistem Rujukan Terintegrasi, yaitu aplikasi berbasis teknologi informasi yang digunakan untuk mempercepat dan mempermudah proses rujukan pasien.
“Saya rasa petugas Puskesmas juga tahu soal ini dan kami juga share setiap shift situasi bed IGD ke grup WA kapus se Loteng,” terangnya. “Besok siang, kami akan bertemu dengan Dinas Kesehatan dan 29 Puskesmas se Loteng, guna membahas SOP rujukan,” sambungnya.
Soal bed malam itu memang full, namun bukan berarti petugas piket RSUD tidak memandu petugas di masing-masing Puskesmas yang akan melakukan rujukan.
Selanjutnya setelah dua jam, mau tidak mau pasien yang akan di rujuk harus di bawa sambil dicarikan solusi.
Ia menambahkan, untuk bed idealnya untuk satu bed rasio untuk seribu masyarakat. Sedangkan kondisi jumlah bed di RSUD Praya, baru 25 bed. Dengan jumlah tersebut jika berbicara rasio dengan jumlah penduduk Loteng, rasio bed yang ada, baru setengahnya.
“Jumlah bed kita saat ini dan tersebar di seluruh rumah sakit pemerintah ataupun swasta, baru 547 bed, kita masih kekurangan jika diambil dari jumlah penduduk Loteng sekitar 1, 091 juta, dan kita masih mengalami kekurangan,” paparnya.
Sementara itu anggota humas RSUD Praya dr. Yuda Permana via telepon whatsapp mengatakan, tidak ada pasien yang ditolak, yang benar saat itu memang kondisi bed full.
Namun bukan berarti petugas RSUD lepas tangan, artinya petugas RSUD terus memandu, petugas Puskesmas yang akan melakukan rujukan, melalui komunikasi pre hospital, yang sudah disediakan.
Selanjutnya setelah dua jam, mau tidak mau pasien yang akan di rujuk harus di bawa sambil dicarikan solusi, tentunya sesuai SOP, paling tidak dengan cara memindahkan pasien di igd, apabila ada pasien tersebut sudah mulai stabil akan di transit kan atau pindahkan ke ruangan yang lain.
Selanjutnya soal ada keluarga pasien yang pulang ambil Bed, itu tidak benar, yang ada pasien datang secara pribadi, tanpa ada rujukan dari Puskesmas. (nu-01).
