Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Puluhan kelompok pembayun dan memaos ikut ambil bagian dalam acara Festival pembayun dan memaos se Pulau Lombok, yang di pusatkan di pasar sentra seni Sengkerang Desa Sengkerang Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah (Loteng).
Kegiatan tersebut di gelar, dalam rangka HUT Gagak Hitam ke 10 dan HUT NTB ke 66.
Ketua panitia sekaligus ketua asosiasi adat dan budaya Lombok Budiman mengatakan, gelaran festival pembayun dan memaos se Pulau Lombok ini bertujuan, untuk menjaga kelestarian adat budaya Sasak Lombok, di Tengah kemajuan zaman saat ini.
Kegiatan ini, bisa dikatakan kali pertama dilakukan, sehingga tentunya jika ada kekurangan, itu tentunya jadi penyempurnaan di gelaran selanjutnya.
“Jika kita tidak mulai dari sekarang, lalu kapan kita bisa jaga adat budaya kita, jadi jika ada kekurangan mari kita sama sama memakluminya dan selanjutnya itu jadi dasar penyempurnaan selanjutnya,” katanya, Rabu (18/12).
Selanjutnya, peserta dalam gelaran festival pembayun dan memaos se Pulau Lombok, di ikuti oleh para pembayun dan memaos se Loteng.
Selanjutnya, pihaknya selaku ketua panitia berharap, agar para peserta patuh dengan aturan yang sudah di sepakati bersama. “Selamat bertanding,” tutupnya.
Sementara itu ketua umum Gagak Hitam H. Jidan Hadi mengatakan, di setiap ulang tahun Gagak Hitam, tidak terfokus dalam satu tempat dan kegiatannya juga berbeda beda.
Di mana tahun lalu, di adakan di kuta dengan acara yang berbeda, dan tahun ini di laksanakan di pasar seni sentra Sengkerang.
“Tahun lalu kita adakan di Kuta, tahun ini di pasar seni Sengkerang, dengan rangkaian berbagai macam lomba, pertama lomba pembayun dan memaos pembacaan lontar peninggalan nenek moyang kita, termasuk kita juga adakan lomba tenis meja, yang sampai saat ini baru 64 yang sudah mendaftar,” paparnya panjang.
Dikatakan, saat ini Loteng pada khususnya, jadi pintu NTB, di Loteng banyak pembangunan yang tidak dimiliki daerah lain. Seperti IPDN, KEK Mandalika, Sirkuit, Bandara, Pelabuhan Awang dan yang lainnya.
Ini tentunya, jika bicara adat bagian dari tantangan, artinya dengan datangnya banyak tamu mancanegara yang membawa adat masing-masing. Tentunya, adat dan kelestarian budaya Lombok harus di pertahankan, salah satunya dengan cara menggelar festival pembayun dan memaos se Pulau Lombok, sebagai salah satu langkah mempertahankan adat kita.
“Bali dikenal dengan wisata, namun mampu mempertahankan budayanya dan malah di setiap ada acara Nasional, adat budayanya selalu di kedepankan, inilah yang harus kita pertahankan, setiap ada acara kenegaraan adat kita harus di tampilkan,” katanya.
Bukan hanya itu, pihaknya juga berpesan kepada peserta, salam sama semua calon generasi kita, ia menitipkan pesan agar terus meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), agar nantinya segala kemajuan daerah, bisa diisi oleh putra daerah.
Tentunya dengan cara meningkatkan SDM sesuai kebutuhan di pasaran. “Tahun ini Loteng catatkan sejarah pertama putra daerah jadi Gubernur, ini tentunya jadi kebanggaan bersama dan mari kita siapkan putra putri terbaik daerah, dalam mengisi kemajuan ini,” pintanya.
Sementara itu pemangku budaya Sasak Lombok H. Inggah mengatakan, adapun aturan dalam lomba pembayun dan memaos membaca lontar atau aksare Kawi atau Sasak, untuk kentung pertama itu pertanda dimulai.
Untuk lomba memaos diberikan waktu 15. Sedangkan untuk lomba pembayun 20 menit pukulannya sama. (nu-01).
