Manusia tidak lepas dari sifat lupa dan sifat salah, seringkali kita kurang bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Seringkali pula karena hal itu, kita disebut tidak qonaah, kalau begitu apa yang dimaksud dengan qonaah ?. Marilah kita bersama sama untuk membahasnya.
Tulisan ini sungguh tidak bermaksud untuk menggurui, tapi lebih sebagai sebuah cara kita berusaha belajar dan berusaha bersikap qonaah. Allah SWT berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَا بِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰ مَنْتُمْ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ شَا كِرًا عَلِيْمًا
“Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 147).
Qonaah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan dan rasa selalu kurang.
Orang yang bersikap dan berperilaku qonaah memiliki pendirian apa yang diperoleh atau yang ada di dirinya adalah kehendak Allah.
Istilah qonaah dari segi bahasa berarti cukup dan merasa puas dengan setiap sesuatu yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT sekaligus tunduk serta bersyukur dengan karunia-Nya. Singkatnya, qonaah ini adalah sikap bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT dan merasa cukup akan semua itu.
Hakikat qonaah dalam Ilmu Tasawuf, yaitu seseorang akan merasa cukup walau penghasilannya berkurang atau justru tambah bersyukur jika penghasilan atau rezekinya berkurang.
Artinya, misalnya musim panen saat ini hasil produksi pertanian 4 ton bersih, turun dari musim sebelumnya 8 ton, walau modalnya sama bahkan lebih banyak menguras energi tenaga dan waktu di musim ini, disaat itulah sikap kita seyogyanya tetap qonaah.
Sikap qonaah ini berupa jiwa yang rela terhadap pemberian rezeki yang telah ditentukan Allah SWT. Selain itu, qonaah adalah perbuatan meninggalkan angan-angan terhadap sesuatu yang tidak ada dan merasa cukup dengan sesuatu yang telah ada. Definisi yang tidak jauh berbeda, qonaah adalah perasaan seseorang yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, terutama dalam pemenuhan keperluan hidup berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
Qonaah akan menyebabkan seseorang mudah bersyukur. Sebagaimana firman Allah SWT berikut:
وَاِ ذْ تَاَ ذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 7)
Pada ayat yang lain, Allah SWT berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَا بِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰ مَنْتُمْ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ شَا كِرًا عَلِيْمًا
“Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 147)
Adapun Ciri-ciri Sifat Qonaah orang yang memiliki sifat qonaah ada penuh dengan rasa bersyukur, sebagaimana, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَا بِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰ مَنْتُمْ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ شَا كِرًا عَلِيْمًا
“Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 147)
Perilaku yang mencerminkan sikap qonaah yaitu, tidak pernah mengeluh dalam menghadapi kenyataan hidupnya. Merasa senang dengan apa yang ia miliki. Tidak marah bila melihat orang lain sukses.
Rela dengan apa yang menjadi hak orang lain. Ikut senang bila melihat orang lain sukses. Menerima dengan rela apa yang telah diberikan Allah kepadanya.
Tidak tertarik oleh segala tipu daya yang bersifat duniawi. Tidak meminta sesuatu yang lebih dari ikhtiarnya. Menerima dengan sabar akan segala ketentuan Allah SWT.
Metode Terapan Sikap Qonaah ada banyak sekali perilaku dalam kehidupan yang mencerminkan qonaah. Perilaku seperti itu yang harus kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari, Berikut beberapa terapan perilaku yang mencerminkan qonaah.
a. Rajin bekerja dan berusaha untuk mencapai hasil terbaik. Pengertian qonaah serta contohnya dalam Islam bukan memerintahkan manusia untuk berdiam diri dan pasrah akan keadaan. Melainkan untuk senantiasa berusaha semaksimal mungkin, rajin bekerja agar mendapatkan hasil terbaik. Tak lupa tentu diiringi dengan doa agar senantiasa mendapat ridho Allah SWT.
b. Tidak mudah kecewa dan berputus asa. Kalau kita, sudah merasa sudah cukup keras berusaha namun hasilnya belum maksimal, maka kita tidak perlu kecewa dan putus asa. Terus lah berpasrah pada Allah SWT untuk diberikan jalan terbaik dalam hidup.
c. Hidupnya sederhana dan tidak tamak. Ketahuilah sejatinya Allah SWT dan Rasulullah SAW sangat menyukai hambanya yang hidup dengan kesederhanaan dan bisa selalu menyesuaikan diri dengan keadaan di setiap perjalanan hidupnya.
d. Selalu bersyukur atas apa karunia yang didapatkan oleh Allah SWT. Bersyukur adalah obat paling indah dalam kehidupan. Dengan bersyukur manusia akan senantiasa ikhlas menerima segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah SWT untuknya.
e. Tidak merasa iri serta dengki atas apa yang didapatkan oleh orang lain. Saat orang lain meraih kesuksesan atau mendapatkan sesuatu yang mungkin juga kita idamkan selama ini, maka kita tidak perlu iri dan dengki. Sebab, percayalah Allah SWT sudah mengatur masing-masing rezeki dari setiap umatnya dengan adil.
f. Hindari pergaulan dengan orang yang memiliki sikap gemar mencemooh orang lain atau suka meremehkan orang lain, atau sering diistilahkan sebagai orang yang suka ‘ngenyek’ usaha teman sendiri. Tipikal orang seperti ini orang yang tong kosong hanya bisa berbunyi, tapi tidak mampu berbuat kebermanfaatan kepada lain.
g. Meyakini pemberian Allah SWT ialah sebuah anugerah terbaik. Sejatinya, apa yang Allah SWT berikan kepada setiap hambanya adalah anugerah yang patut kita yakini. Allah SWT tahu betul apa yang harus ia berikan kepada setiap hambanya. Jadi percayalah dengan berqonaah hidup pun akan jauh lebih tenang dan indah.
h. Selalu ingat bahwa sifat dunia ini sementara. Dunia hanyalah panggung sandiwara. Dunia merupakan kenikmatan sesaat yang tidak abadi dan suatu saat nanti akan hancur atas izin Allah SWT.
Sebagai manusia beriman alangkah lebih baik jika kita mawas diri untuk tetap terjaga dalam iman Islam kita agar tak terlena dengan surga dunia.
Demikian, bahasan kita tentang qonaah, semoga senantiasa kita selalu diberikan hidayah Allah SWT hingga kita senantiasa menjadi hamba Allah SWT yang sabar berperilaku qonaah. (al-Faqir).
