MEMAKMURKAN MASJID, MERAIH GARANSI TERBAIK DUNIA AKHIRAT

Pembaca budiman yang saya hormati, tulisan ingin mengajak kita membahas tentang spirit untuk menjadi khadam atau penjaga masjid.

Penjaga masjid, dalam konteks ini tentu tidak berhenti dimaknai sebagai penjaga (security) saja, tapi lebih jauh dimaknai sebagai menjaga dari seluruh marwah yang melekat pada kelembagaan masjid.

Dalam kajian sosiologi kemasjidan, masjid secara umum, paling kurang dapat diklaster menjadi 8 tipologi masjid.

Masjid Negara (Nasional), Masjid Raya (Wilayah Provinsi) Masjid Agung (Daerah Kabupaten/Kota), Masjid Besar (Distrik/kecamatan), Masjid Jami’ (Desa/Kelurahan/Kampung dan Masjid Kawasan Publik (Kampus, Kantor, Bandara, Terminal, Pelabuhan dan Pusat Kawasan Keramaian Konstan; Plaza, Mall dan lainnya) dan terakhir Masjid Bersejarah (Cagar Budaya).

Kesemua tipologi masjid tersebut memiliki ciri karakteristik dan kekhasan, tapi satu prinsip kebutuhannya yaitu membutuhkan khodam atau pelayan atau dalam hal ini kita sebut pentakmir.

Seperti yang kita pahami bahwa dalam kajian kemasjidan antara pengertian jamaah, takmir dan pengurus masjid memiliki kedudukan yang berbeda.

Tapi pada prinsipnya memiliki muara yang sama yaitu mencintai masjid atau memakmurkan masjid.

Kemudian, jika kita baca dari berbagai sumber media, maka kita akan menemukan tentang bagaimana program-program unggulan masjid yang mendapat respons antusias dari jamaah, ada juga masjid yang begitu konsern dengan amal usaha penguatan kesejahteraan jamaah, sampai muncul istilah nolkan saldo masjid; taglinenya amal umat, dari umat, oleh umat dan untuk umat.

Di bagian yang lain, ada masjid yang begitu konsen pada kegiatan kegiatan keagamaannya, terutama kegiatan shalat berjamaah 5 waktu dan kajian keagamaan, sampai jamaahnya nginap di masjid.

Disamping juga ada masjid yang sepi, bahkan hanya dikunjungi pada hari Jumat saja, selebihnya pada saat Idul Fitri dan Idul Adha.

Untuk menghindari kondisi yang disebutkan terakhir dan untuk menghindari dalam kekakuan praktek pengelolaan masjid, maka patut kita kembali pada khitah fungsi masjid sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Yaitu menempatkan masjid sebagai pusat kemaslahatan umat dan peradaban.

Masjid adalah rumah Allah yang memiliki kedudukan istimewa, selain sebagai tempat mahdhah (ibadah yang terhubung langsung) kepada Allah SWT. Masjid juga berfungsi sebagai pusat peradaban, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ketika mendirikan masjid Quba dan Masjid Madinah (Nabawi) pada peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Masjid menjadi poros pergerakan dan dakwah, menjadi tempat silaturahmi, komunikasi dan konsolidasi umat.

Maka pantas kemudian, masjid pada awal kesejarahannya menjadi ikon keberanian para sahabat baik sebelum dan sesudah wafatnya Rasulullah, Masjid Quba dan Masjid Madinah, secara fisik (arsitektur) terbangun dari batu dan tanah, beratap pelepah kurma, telah menjadi saksi ketar ketirnya pasukan khusus Alexandria, keberadaan Masjid Madinah telah mematahkan teori pertahanan perang antar negara saat itu, dimana para intelijen Alexandria, baru melihat bangunan Masjid Madinah saja sudah dapat menyimpulkan bahwa, pantas tentara muslim dengan mudahnya menaklukkan imperium Persia, termasuk takluknya kota Babilonia, dan Naqiyus, yang termasuk wilayah (region) dari Alexandria di Mesir.

Dalam pikiran intelijen Alexandria, bahwa tentara muslim yang berangkat perang meninggalkan kota Madinah (Masjid Madinah) adalah bala tentara perang yang murni untuk menegakkan Agama Islam, bukan karena megah kemewahan istana, berlian dan emas.

Mereka para tentara Masjid Madinah dalam istilah saat ini orang-orang yang sudah ‘selesai’ dari godaan dunia.
Oleh karena menjadi pemakmur masjid, memerlukan sikap ‘selesai’ seperti sikap ‘selesai’ nya para bala tentara Masjid Madinah, maka tentu kita tidak mudah untuk menemukan manusia ‘selesai’ dalam konteks post truth hari ini, dalam kesulitan itulah maka penting untuk kita memulai belajar menjadi pencinta masjid, pentakmir masjid.

Sebab banyak ganjaran yang telah dipersiapkan oleh Allah SWT bagi orang yang mencintai dan memakmurkan masjid sebagaimana firman Nya.

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّڪَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَ‌ۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) kecuali kepada Allah, maka semoga mereka menjadi golongan yang mendapatkan petunjuk”[QS at-Taubah ayat 18]

Mari kita perhatikan kategori pentakmir masjid, menurut ayat diatas; orang yang beriman, orang yang mendirikan shalat, orang yang menunaikan zakat, dan orang yang tidak takut kecuali hanya kepada Allah SWT.

Perlu kita tegaskan, pada kategori keempat, yaitu orang yang pemberani, keberaniannya hanya disekat oleh satu sikap takut kepada Allah SWT.

Kategori 1-4 adalah utuh menyatu menjadi pedoman dan variabel atau pengkategorian dari al Qur’an, variabel inilah kunci untuk dapat menjadi pemakmur masjid yang kelak Allah balas dengan senyata nyata balasan terbaik.
Rasulullah SAW memotivasi agar kita mentakmir masjid dengan memberikan kabar gembira sebagai berikut.

1. Langkah kaki ke masjid akan menghapus dosa dan meninggikan derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Dari Abi Hurairah RA: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat. (Shahih Muslim: 1070).

2. Mendapat Naungan Allah SWT.
Para pemakmur masjid dalam terminologi kajian hadits, digolongkan sebagai kategori golongan dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan dihari tidak ada naungan, yaitu “Rajulun qolbuhu muallaqun fil masaajid” (Orang yang hatinya terpaut dengan masjid).

َ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ:
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ

Rasulullah bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: seorang laki laki yang hatinya berpaut ke masjid.

3. Belajar mengajar al-Qur’an di Masjid itu berkah dan menenangkan pikiran dan perasaan.

قَالَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Nabi SAW bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di dalam rumah diantara rumah-rumah Allah ta’ala, membaca kitab Allah, dan saling mempelajarinya diantara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka diantara malaikat yang ada di sisi-Nya.” [Sunan Abu Daud HN 1243].

Dalam banyak peristiwa, bahwa hiruk pikuk persaingan hidup kadang menyisakan masalah yang mengakibatkan keputusasaan, stres dan depresi, maka sering kondisi tersebut luntur seketika pada saat orang tersebut berpulang ke masjid.

Masjid memancarkan aura ketenangan, menghubungkan kefanaan manusia dan dengan kemahakuasaan Allah SWT.

Mumpung sebentar lagi kita memasuki Ramadhan, bulan berkah, bulan magfirah kita mulai belajar mentakmirkan masjid, mencintai masjid, jangan malu, tidak perlu sungkan, masjid adalah tempat kita umat Nabi Muhammad SAW. Hanya Allah SWT yang memiliki otoritas menilai hasil ibadah kita, dan sekali lagi patut kita saling mengingatkan bahwa kita manusia tidak ada yang sempurna, dan jangan coba coba kita memiliki pikiran ingin menjadi manusia sempurna.

Mengapa demikian? Karena memang pikiran ingin menjadi manusia sempurna adalah pikiran yang tidak masuk akal.
Akhir kalam mari kita berdoa dan berusaha kepada Allah SWT, semoga kita selalu diberikan keberkahan dan kebermanfaatan dalam hidup beragama dan bernegara selamat di dunia dan di akhirat. (Al-Faqir).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *