Pembaca Budiman yang saya hormati, pada kesempatan ini, ijinkan saya mengajak kita semua membahas dan sama sama kita merefleksi betapa penting dan besarnya fadilah bersikap tawadhu. Ungkapan Tawadhu begitu mudah kita ucap, tapi begitu sulit kita menerapkan.
Kita awali bahasan kita mulai dari apa makna tawadhu? Tawadhu merupakan sikap yang harus dimiliki setiap Muslim. Sikap ini juga dimiliki dan dicontohkan oleh Rasulullah semasa hidupnya.
Secara bahasa, tawadhu berasal dari bahasa Arab, yang merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “ta” dan “wadha’a”. “Ta” adalah awalan yang menunjukkan perbuatan, sedangkan “wadha’a” berarti meletakkan atau menempatkan diri pada posisi yang rendah, kata tawadhu artinya sifat rendah hati serta tidak menyombongkan diri baik dalam ucapan ataupun dalam perilaku terhadap manusia lainnya.
Dalam Islam, pentingnya bersikap tawadhu tertuang dalam Alquran surat Al Furqon ayat 63:
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
Artinya: Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
Dari ayat di atas, dapat dimaknai bahwa orang yang tawadhu tidak akan sombong dengan segala kelebihan yang dia miliki. Justru dengan kelebihan tersebut, ia akan berbuat semakin baik. Ada banyak contoh sikap tawadhu yang dapat diamalkan umat Muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya, seseorang yang mempunyai kelebihan harta yang berpenampilan sederhana serta membelanjakan hartanya di jalan Allah. Selain itu, ia akan menginfakkan sebagian hartanya kepada fakir miskin yang membutuhkan.
Tawadhu terhadap sesama hamba Allah bisa ditunjukkan dengan sikap selalu berbuat baik terhadap orang lain. Apabila seseorang memiliki suatu kelebihan, maka ia tidak akan menyombongkan diri atau bersikap pelit.
Jika seseorang dikaruniai harta yang berlebih, maka ia akan menggunakan harta itu sebaik mungkin di jalan Allah SWT. Ia juga tidak akan berlebihan dalam berpenampilan maupun gaya hidupnya.
Orang yang berilmu atau mempunyai kekuasaan, dengan sifat tawadhunya akan mengayomi, mengajarkan dan melindungi orang lain dengan ilmu atau kedudukannya tersebut.
Sikap berbagi ilmu, sikap berbagi pendapat hendaknya juga disampaikan dengan cara yang tawadhu, sebab jika pengetahuan yang disampaikan kepada orang lain tanpa pendekatan tawadhu, maka tentu dapat mengakibatkan nilai dari sumber pengetahuan tersebut menjadi tidak bermakna.
Demikian juga apabila berbagi harta kepada orang lain hendaknya juga mengedepankan sikap tawadhu, agar orang yang diberikan tidak merasa rendah diri. Sebab bagaimanapun setiap kelebihan yang dimiliki seseorang sesungguhnya merupakan ujian dari Allah SWT.
Di hadapan Allah SWT, orang yang memiliki sifat tawadhu akan mensyukuri segala pemberian dari tuhannya dan yakin bahwa apa yang diperolehnya adalah anugerah atau pemberian semata mata dari Allah SWT.
Orang yang paling memiliki sifat tawadhu dan harus dijadikan contoh seluruh muslimin adalah Nabi Muhammad SAW. Hal itu terlihat dari sikap-sikap beliau semasa hidupnya.
Rasulullah SAW bersabda.
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR Ahmad).
Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat rendah hati. Beliau selalu berbuat demikian terhadap siapa pun.
Sifat tawadhu atau rendah hati Rasulullah SAW pernah diceritakan oleh Aisyah RA. Ketika itu Aisyah RA ditanya mengenai hal ini, kemudian ia menjawab, “Rasulullah itu manusia biasa, menjahit pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan mengerjakan sendiri keperluannya.” Anas RA berkata, “Setiap budak perempuan di Madinah diperkenankan meminta bantuan kepada Nabi Muhammad, dan kapan pun diperlukan, Nabi bersedia meringankan keluhan mereka.”
Dalam hadits yang lain, Anas RA juga menceritakan, bahwasanya ada seorang laki-laki memanggil Rasulullah SAW, “Hai Muhammad, hai pemimpin kami dan putra pemimpin kami, hai orang terbaik kami dan putra terbaik kami.”
Mendengar panggilan tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sekalian manusia, panggilah aku dengan panggilan yang bukan seperti kalian ucapkan, dan bukan juga dengan panggilan yang setan buat untuk merendahkan kalian.
Aku adalah Muhammad bin Abdullah, seorang hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak ingin kalian mengangkat ku lebih tinggi dari kedudukanku (sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya).”
Walaupun Rasulullah SAW adalah orang yang paling mulia, rasul Allah SWT, dan pemimpin dari umat Islam, namun Anas bin Malik RA mengisahkan bahwa beliau juga biasa menjenguk orang yang sakit, menghadiri penyiapan jenazah, mendatangi undangan hamba sahaya, dan menunggang keledai.
Pengakuan-pengakuan inilah yang menunjukkan betapa rendah hati dan tawadhunya Rasulullah SAW suri teladan umat Islam semuanya.
Bayangkan betapa banyak orang orang di sekeliling kita yang kewibawaannya seolah tidak dihargai oleh sesamanya karena sikap sombongnya. Mari kita hindari sikap sok tau, sok memiliki, sebab prototype seperti ini tentu bukan sikap terpuji, tidak menguntungkan. Justeru akan merugikan diri sendiri.
Tetangga kita tidak akan kekurangan kehilangan kita, jikalau kita merasa paling tau, bukan kah kita bisa menghitung kemampuan kita, coba uji kemampuan, dengan membuat satu pertanyaan dari diri kita dan menjawab untuk diri kita, contoh apakah aku bisa membuat baju yang aku pakai ini? Lalu diri kita menjawab, ooo ternyata aku tidak bisa membuat baju yang aku pakai.
Betapa pentingnya sikap tawadhu, untuk menjaga kita dalam pergaulan sehari hari, agar orang senang bersahabat dengan kita, sebab, apabila kita tidak menyukai orang sombong, maka kita jangan menyombongkan diri, jika kita ingin pendapat kita di dengar maka kita juga harus belajar mendengar pendapat orang lain.
Jika kita mengkritik orang lain maka kita harus memiliki solusi terhadap persoalan yang kita kritik. Itupun dengan cara cara yang tawadhu, jauh dari sikap sombong dan angkuh, sekali lagi keangkuhan dapat mematahkan nilai kelebihan yang dimiliki seseorang.
Demikianlah bahasan kita pada kesempatan ini sekali lagi marilah kita mulai berusaha untuk kita menempatkan sifat tawadhu dalam bersikap disetiap pergaulan kita, sebab jika seorang sudah mampu bersikap tawadhu maka dengan sendirinya pikiran dan jiwa kita akan terhindar dari perkara perkara yang membuat kita susah atau galau. Sebab kesusahan dan kegalauan itu akar muakarnya timbul karena perilaku arogan dan sombong.
Agar kita dapat meraih sikap tawadhu maka mari bekerja sepanjang yang bisa kita kerjakan, berpikir sepanjang yang bisa kita pikirkan. Sehingga segala beban badan, beban otak, beban perasaan sesuai porsi yang telah disediakan Allah SWT.
Cara menakarnya adalah dengan menempatkan batas kemampuan kita setelah kita mengupayakan secara proporsional. (Al Faqir)
