Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Zaed Bin Tsabit, dilantik sebagai pembina Asrama di lingkungan Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Quran (NQ) Lendang Simbe Desa Mertak Tombok Kecamatan Praya Lombok Tengah (Loteng).
Pelantikan pembina asrama tersebut, dipusatkan di lingkungan Yayasan Ponpes setempat, dan dilantik langsung pimpinan Ponpes Nurul Qur’an Lendang Simbe Desa Mertak Tombok Kecamatan Praya Loteng Dr. TGH. Sabaruddin Abdurrrahman M. Pd, Ahad (31/8).
Keberadaan susunan kepengurusan asrama, nantinya akan membantu melaksanakan semua peraturan yang sudah ditetapkan bersama di lingkungan Yayasan Ponpes setempat.
Keberadaan pengurus asrama tentunya sebagai perpanjangan tangan pembina dan pemimpin ponpes dalam mengurus, membina, memantau, menegakkan kedisiplinan dan aturan yang sudah ditetapkan di masing-masing asrama.
Pimpinan Ponpes Nurul Quran Lendang Simbe Desa Mertak Tombok Kecamatan Praya Loteng Dr. TGH. Sabaruddin Abdurrrahman M. Pd mengatakan, demi kelancaran seluruh program Ponpes, keberadaan pembina dan ketua asrama amat penting.
Sebab keberadaan pembina dan ketua asrama, berperan sebagai role model dan pengawas strategis.
Dimana nantinya sebagai petugas dan pembimbing langsung di asrama, serta menyusun panduan umum pembinaan berbasis kurikulum cinta dan digitalisasi pesantren.
“Saya rasa apa yang kami lakukan di asrama, sama dengan ponpes yang lain, cuman kita punya trik dan manajemen berbeda beda untuk mencapai tujuan,” katanya.
Selain itu, pembina juga bertugas melakukan integrasi antara aspek keamanan, kenyamanan, kedisiplinan, dan pembelajaran. Serta memberikan evaluasi rutin dan arahan visioner bagi seluruh pengurus.
Dikatakan, saat ini jumlah santri santriwati di Ponpes Nurul Qur’an sebanyak 1219 orang. Sedangkan jumlah asrama sebagai tempat tampungan sebanyak Empat Asrama, masing-masing bernama Asrama Imam ‘Ashim, Imam Ibnu Katsir, Imam Nafi’, Imam Hamzah.
“Masing-masing asrama kita ambillah nama para Qori’ dan imam Hafs, dengan tujuan untuk mengambil berkah dan masing-masing asrama sudah kita angkat ketuanya dan dikomandoi satu orang pembinan,” papar Qori’ Internasional ini.
Sesuai dengan tugas dan aturan yang sudah ditetapkan lanjut ASN Kanwil Kemenag NTB ini, masing-masing Ketua Asrama bertugas sebagai leader di lingkup asramanya termasuk menjalankan program Ponpes
Pertama. menjadi penghubung antara santri dengan pembimbing. Menjaga keamanan, kebersihan, dan kenyamanan lingkungan asrama.
Dua, jadi pembina kedisiplinan santri dalam waktu, ibadah, dan belajar, mengawasi penerapan manajemen digitalisasi, seperti absensi digital, laporan kegiatan, dan evaluasi berbasis data.
Tiga, ketua asrama dalam menjalankan beberapa program Ponpes, seperti Bidang Ibadah, bertugas mengatur jadwal shalat berjamaah, wirid, dan kajian rutin.
Termasuk memastikan seluruh santri terlibat aktif dalam kegiatan ibadah dengan suasana cinta dan ikhlas dan
membimbing bacaan Qur’an serta adab ibadah sesuai manhaj pesantren.
Empat, Dibidang keamanan. Menjaga ketertiban, keamanan fasilitas, dan mencegah potensi gangguan. Mengawasi disiplin waktu (masuk-keluar asrama, kegiatan belajar, dan istirahat). Mengedepankan pendekatan persuasif dan penuh kasih sayang dalam setiap penindakan.
Lima. Bidang Bahasa (Arab & Inggris)
Mendorong budaya komunikasi santri dengan bahasa Arab dan Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Menyusun program daily conversation, language club, dan lomba kreatif berbasis digital. Menjadi motor penggerak pembelajaran aktif dan menyenangkan, selaras dengan kurikulum cinta.
Ke Enam, Bidang Kenyamanan dan Kebersihan (terintegrasi pada masing-masing asrama). Menjaga lingkungan asrama tetap bersih, sehat, dan ramah bagi santri. Mengatur piket bersama serta memberikan edukasi pentingnya menjaga lingkungan. Mengintegrasikan program green pesantren dengan manajemen digital
Dr. Sabaruddin menambahkan, dari sekian aturan dan program diatas, tentunya itu semua punya landasan kerja. Artinya, seluruh tugas pengurus berlandaskan pada Kurikulum Cinta: cinta kepada Allah, Rasul, guru, teman, ilmu, dan lingkungan.
Dengan dukungan manajemen digitalisasi pesantren, setiap tugas tidak hanya dijalankan secara manual tetapi juga terdokumentasi rapi dalam sistem yang terukur dan transparan.
“Yang jelas, pada intinya pengurus asrama bukan sekadar pengawas, tetapi pendidik, sahabat, dan teladan bagi santri, yang menanamkan keamanan, kenyamanan, kedisiplinan, dan pembelajaran dengan pendekatan penuh cinta,” tutupnya. (nu-01
