Oleh: Ainuddin Fahri
Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) sudah terdaftar di situs Direktorat Jenderal Perhubungan Udara/ Kemenhub. Keputusan perubahan nama sudah diputuskan, DPRD NTB menyatakan perubahan itu final (ada SK/rekomen dari DPRD dan SK Menhub terkait)
Dalam tradisi masyarakat kita, ulama adalah poros kehidupan umat. Mereka bukan hanya guru dalam ibadah, tetapi penerang dalam pendidikan, ekonomi, sosial, bahkan dalam menentukan arah kemajuan daerah. Karena itu dalam sejarah NTB, peran ulama tidak bisa dipisahkan dari perkembangan masyarakatnya.
Kita memiliki warisan ulama’ besar yang pengaruhnya melampaui masanya. Salah satunya adalah Tuan Guru Kiai Haji Zainuddin Abdul Madjid, seorang tokoh nasional, pendidik, ulama, sekaligus pejuang yang mendirikan pondok pesantren, madrasah, dan menggerakkan dakwah yang telah melahirkan ribuan generasi berakhlak.
Maka ketika nama beliau diabadikan menjadi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), itu bukan sekadar pemberian nama. Itu adalah pengakuan, penghormatan, dan peneguhan identitas bahwa Lombok dibangun oleh keringat, doa, dan perjuangan ulama’.
Untuk melihat bagaimana masyarakat merespons persoalan ini, dilakukanlah survei yang melibatkan berbagai lapisan: pemuda, masyarakat umum, tokoh agama, tokoh masyarakat, para jamaah, pendidik, serta masyarakat adat. Dan hasilnya sangat jelas.
Mayoritas masyarakat NTB mendukung dan menyetujui penamaan BIZAM tetap dipertahankan.
Dukungan ini lahir bukan hanya dari kecintaan kepada sebuah nama, tetapi dari kesadaran bahwa ulama’ adalah pewaris para nabi, dan menempatkan nama ulama’ di tempat yang mulia adalah bagian dari menjaga keberkahan daerah.
Sebab, di mana nama ulama’ dijunjung, di situlah ilmu dijaga, dan keberkahan Allah mendekat.
Kita memahami bahwa ada sebagian masyarakat yang memiliki sudut pandang berbeda. Itu manusiawi, itu wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun sikap masyarakat luas yang tergambar dari hasil survei menunjukkan bahwa suara terbanyak mendukung peran ulama tetap dijunjung sebagai identitas daerah.
Dalam Islam, ulama adalah pelita.
Pesan mereka adalah penuntun.
Doa mereka adalah pelindung.
Jejak perjuangan mereka adalah fondasi peradaban.
Tidaklah layak kita menurunkan derajat ulama, apalagi menghapus jejak nama mereka dari ruang publik. Justru dengan menempatkan nama ulama di tempat yang mulia, kita menjaga keberlangsungan nilai-nilai Islam, pendidikan, dan akhlak di tengah masyarakat.
Mari kita jadikan hasil survei ini bukan sekadar angka, tetapi sebagai amanah dari masyarakat untuk terus menjaga warisan ulama. Kita rawat adab, kita jaga persatuan, dan kita hormati tokoh yang telah membawa cahaya iman dan ilmu
dawek ngiring bersyukur tipak de side Allah SWT, Dzat yang mengangkat derajat orang-orang berilmu, dan menurunkan keberkahan kepada umat yang memuliakan ulama’
Dalam perjalanan sejarah Islam, ulama selalu menjadi tiang penegak peradaban. Mereka yang mengajarkan Al-Qur’an, menjaga akhlak umat, menuntun masyarakat dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu dan iman. Tidak ada satu bangsa muslim pun yang maju tanpa keberadaan ulama yang kuat. Begitu pula NTB—Lombok dan Sumbawa tumbuh dan dikenal sebagai pulau seribu masjid karena sentuhan tangan dan doa para ulama’.
Dalam konteks itulah kita mengenang sosok besar, Tuan Guru Kiai Haji Zainuddin Abdul Madjid, seorang ulama’, pendidik, pejuang, pendiri pesantren, dan tokoh nasional yang jejaknya tidak hanya tertanam di ruang sejarah, tetapi di hati masyarakat. Beliau bukan hanya tokoh lokal, namun tokoh bangsa. Doa, keringat, perjuangan dan pengorbanannya telah melahirkan ribuan santri, ustaz, dan generasi penerus yang kini menyebar membawa ilmu ke seluruh penjuru.
Maka ketika nama beliau diabadikan menjadi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), itu bukan sekadar keputusan administratif. Itu adalah bentuk penghormatan terhadap ulama’, penjaga tradisi, penjaga iman, dan penjaga cahaya ilmu di negeri ini.
Untuk mengetahui bagaimana masyarakat menilai penamaan ini, dilakukanlah sebuah survei yang melibatkan banyak kalangan, mulai dari unsur pemuda, tokoh masyarakat, akademisi, jamaah masjid, pelaku usaha, hingga masyarakat umum. Dan hasilnya sangat jelas.
Mayoritas masyarakat mendukung dan menyetujui penamaan BIZAM dipertahankan sebagai nama resmi bandara internasional Lombok.
Dukungan ini lahir dari hati masyarakat yang memahami bahwa keberkahan daerah lahir ketika ulama dihormati. Nama ulama yang diangkat, insyaAllah mengangkat derajat masyarakatnya. Sebab nama ulama bukan hanya simbol, tetapi doa yang terucap setiap kali bandara disebut, doa yang mengalir ketika orang datang dan pergi lewat tempat itu.
Kita juga menyadari bahwa dalam setiap urusan publik ada perbedaan pendapat. Itu sunnatullah. Namun perbedaan itu tidak boleh membuat kita lalai dari prinsip dasar dalam agama.
“Muliakanlah ulama’, niscaya Allah akan memuliakan kita.”
Dalam kitab-kitab klasik disebutkan:
“Jika suatu kaum ingin dimuliakan Allah, muliakanlah orang berilmu di antara mereka.”
Maka menjaga nama ulama adalah menjaga kebangkitan umat. Menjaga nama ulama’ adalah menjaga keberkahan wilayah.
Dan menjaga nama ulama’ adalah menjaga tradisi Islam yang telah diwariskan turun-temurun kepada kita.
Di tengah hiruk pikuk dunia, ulama’ lah yang selalu mengingatkan kita agar tetap berpegang pada nilai-nilai agama.
Ulama’ lah yang memadamkan api fitnah. Ulama lah yang menyatukan umat ketika terjadi perbedaan. Ulama’ lah yang menjadi tempat bertanya ketika hati diliputi gelisah.
Maka sangat tidak layak apabila pengabdian seorang ulama’ besar justru ingin dikecilkan. Sangat tidak wajar jika warisan sejarah ulama’ ingin dikesampingkan. Dan sangat tidak pantas bila kita tidak menjaga nama besar mereka yang telah menjadi cahaya bagi kita.
Karena itu, ketika hasil survei memperlihatkan bahwa dukungan terhadap nama BIZAM adalah suara mayoritas, maka itu tidak hanya angka—itu adalah amanah umat. Itu adalah suara rakyat. Dan dalam Islam, amanah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Marilah kita jadikan persoalan ini sebagai momentum memperkuat penghormatan kepada ulama, bukan malah menurunkannya. Ulama adalah penjaga moral, penjaga kedamaian, dan penjaga keseimbangan masyarakat. Jika ulama dihormati, maka daerah akan dijaga Allah, dan rezekinya akan dibukakan dari arah yang tak terduga.
Semoga Allah SWT menuntun kita kepada keputusan terbaik. Semoga Lombok, NTB, dan seluruh masyarakatnya mendapatkan keberkahan karena memuliakan ulama’.
