Lombok Tengah (ntbupdate.com) – Terhitung tanggal 1 Februari 2025, Bandara Internasional Lombok (BIL), telah menambah transportasi darat di bandara dengan menghadirkan layanan taksi Bluebird.
Akibatnya, para sopir lokal BIL terbuang di tanah sendiri, padahal ada 132 sopir lokal dari Tiga Desa yaitu Desa Ketare, Tanak Awu Kecamatan Pujut Lombok Tengah (Loteng) dan Desa Penujak Kecamatan Praya Barat Loteng, masih belum di akomodir, dan masih menanti diakomodir, namun malah pihak Angkasa Pura (AP), mendatangkan Bluebird dari luar.
Ketua Koperasi Jasa Pariwisata dan Transportasi (KJPT) Lombok baru H. Lalu Basir mengaku kecewa dengan keputusan yang diambil pihak AP Bandara, yang mendatangkan tenaga luar. Padahal para sopir lokal masih ada 132 yang belum diakomodir.
“Jika alasannya menambah transportasi darat, kan masih banyak sopir lokal, yang notabenenya berasal dari Desa Lingkar Bandara, kenapa harus mendatangkan transportasi luar,” kesalnya, Rabu (27/02).
Atas keputusan tersebut, ini sama artinya penghinaan dan pihaknya selaku ketua KJPT Lombok Baru, akan terus berjuang agar tenaga lokal tetap diutamakan. Sebab mereka juga dulunya melepaskan tanah mereka sebagai tempat dibangunnya BIL, pihak AP telah berjanji, semua tenaga yang ada di lingkar Bandara akan dipekerjakan, namun apa, apa yang mereka janjikan saat pembebasan lahan bohong.
“Bicara skill, mari kami siap bersaing tapi berikan kami kesempatan, jangan seperti ini, jika kami tau apa yang dijanjikan dulu saat pembebasan lahan, kami tidak akan lepas,” kesalnya.
Selama angkutan transportasi darat Bluebird beroperasi lanjut H. Basir, pihaknya bersama 132 Sopir lokal, akan terus menolak transportasi darat Bluebird beroperasi di Bandara.
Sementara itu Lalu Puji Kali Jaga mengaku, pihaknya bersama teman teman sopir mencari rizki di tanah nenek moyangnya sendiri. Sebab dulu saat pembebasan dijanjikan segala bentuk pekerjaan yang ada di bandara, tetap mengedepankan pekerja lokal, terutama yang memiliki lahan yang dibebaskan.
“Kami juga punya keluarga anak istri, lagian kami juga dulu dijanjikan saat pembebasan lahan, sekarang malah kami tidak diperhatikan, padahal kami juga punya fasilitas yang sama dengan para sopir GoCar dan GrabCar, yang di akomodir AP,” katanya.
Selanjutnya melalui tulisan ini pihaknya
berharap, kebijakan dari pihak AP untuk bisa berbuat adil dan memperhatikan para sopir lokal, yang menjalankan usaha jasa transportasi diberikan atensi khusus, mengingat hal ini menyangkut perekonomian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Jangan sampai ada asumsi kemegahan dan kemewahan Bandara, justru tidak memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Kami juga minta aparat turun melihat apa yang terjadi sebenarnya di lapangan, jangan hanya melihat dari luarnya, kami para sopir lingkar Bandara tidak di berikan akses pihak AP,” ujarnya.
Sementara itu Stakeholder Relation Dept Head PT AP Bandara Lombok Arif Haryanto mengatakan, sopir GoCar dan Grab Car sebelumnya sudah menawarkan kepada 5 koperasi atau perusahaan land transportation yang ada di Bandara Lombok.
Hanya saja dari 5 Koperasi atau perusahaan tersebut, hanya 4 menyatakan bergabung dengan GoCar dan Grab Car. Justru Koperasi Lombok Baru yang menyatakan belum mau bergabung.
Jika KJPT Lombok Baru ingin bergabung dengan GoCar dan Grab Car, bisa langsung menghubungi pihak GoCar dan Grab Car.
Sementara itu dalam press rilis sebelumnya, hadirnya layanan Bluebird ini untuk memenuhi permintaan pengguna jasa akan adanya pilihan transportasi bandara berbasis argometer. Sebelumnya juga telah hadir pilihan transportasi bandara berbasis aplikasi Grab Car sejak 28 Juni 2021 dan GoCar yang beroperasi sejak 23 Desember 2024.
“Kehadiran Bluebird, Grab Car, dan GoCar ini melengkapi layanan jasa transportasi darat yang sudah ada sebelumnya di Bandara Lombok. Hal ini sejalan dengan komitmen kami untuk meningkatkan standar pelayanan bandara kepada pengguna jasa, khususnya dalam layanan transportasi darat penghubung bandara. Selain sebagai alternatif, hal ini juga merupakan upaya untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah bagi armada penyedia layanan transportasi darat di Bandara Lombok,” ujar General Manager PT Angkasa Pura Indonesia KC Bandara Lombok Barata Singgih Riwahono.
Selain itu, semakin beragamnya pilihan moda transportasi darat resmi di bandara ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi dari dan menuju ke bandara, memastikan kenyamanan dan keamanan penumpang pengguna jasa transportasi, serta memudahkan mobilitas masyarakat dan wisatawan yang tiba maupun berangkat dari Bandara Lombok.
“Kami sebagai pengelola bandara ingin memastikan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan pengguna jasa dengan menghadirkan layanan pendukung bandara yang memiliki standar baik serta menyesuaikan kebutuhan pengguna jasa bandara. Hal ini juga bagian dari upaya kami dalam mendukung Lombok sebagai destinasi pariwisata serta demi kemajuan masyarakat NTB,” imbuh Barata.
“Saya sangat setuju dengan semakin beragamnya pilihan moda transportasi dari dan menuju bandara ini. Sebagai konsumen, tentunya penumpang berhak memilih moda transportasi yang mereka anggap paling aman, terpercaya, dan pelayanan yang bagus. Toh bandara-bandara di daerah lain juga sudah lazim kok ada Bluebird, Grab, GoCar. Apalagi Lombok ini kan destinasi wisata. Mestinya didukung dengan pelayanan yang baik sejak turis itu tiba di bandara,” komentar Rizky Ramdhani, pengguna jasa Bandara Lombok asal Sumbawa Besar. (nu-01)
