Pembaca budiman yang saya banggakan, ijinkan saya untuk kita kembali melanjutkan pembahasan seputar peristiwa keagamaan (religiusitas) kita sehari hari, sebelumnya kita sudah membahas, sabar, tawadhu, qonaah, Istiqomah, istighfar, takwa dan khasiat puasa Pembahasan kita semoga tidak dikesankan ringan, karena sesungguhnya mempraktikkannya begitu berat dan penuh ujian.
Kali ini kita membahas tentang bersikap dan berusaha hidup penuh kebermanfaatan. Kita tak perlu berupaya untuk menjadi seseorang yang disegani, apalagi ditakuti. Tetapi kita berupaya menjadi seorang yang berguna bagi siapa pun di sekeliling kita. Terus menerus berusaha mewujudkan agar diri kita bisa menjadi seorang yang bermanfaat kepada orang lain, mampu membantu meringankan orang lain, dan mampu menginspirasi orang lain.
Rasulullah memandu agar kita memiliki kemauan dan kemampuan untuk dapat menyebarkan kebermanfaatan bagi orang disekeliling kita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani).
Mari kita cermati hadits ini, bahwa untuk mengukur derajat kemanusiaan diukur dengan sejauh mana manusia dapat bernilai manfaat kepada sesama manusia lainnya. Mari kita coba membuat pertanyaan, apakah kita bermanfaat atau tidak untuk keluarga kita? Jangan jangan keberadaan kita justru menjadi beban keluarga? Apakah kita bermanfaat untuk sahabat kita? Jangan jangan justru kita yang selalu memanfaatkan mereka? Apakah kita bermanfaat untuk agama kita, atau jangan jangan kita menghambat perjuangan agama. Berikutnya apa jasa kita kepada negara? Nilai manfaat apa yang sudah kita berikan untuk negara kita? berapa banyak Infaq shadaqah yang sudah disumbangkan untuk kepentingan umat, masjid dan mushala?
Lebih lanjut, kita buat pertanyaan yang lebih spesifik jika orang lain meninggalkan kita, seberapa besar kita akan merasa kehilangan? Atau jika kita meninggalkan mereka seberapa berat rasa kehilangan mereka terhadap kepergian kita?
Oleh karenanya, dengan berusaha memberikan manfaat kebaikan patut kita terus upayakan, boleh jadi kita memiliki keterampilan seni kaligrafi, maka tinggalkanlah kesan terbaik dengan kapasitas keterampilan menulis kaligrafi yang dimiliki. Atau misalnya kita ingin memberikan kesan kebaikan yang nyaris saat ini sudah tidak lestari lagi, yaitu keterampilan dan ketekunan menjadi petugas penabuh beduk waktu di Masjid.
Selain itu, memberikan manfaat kepada orang lain, semuanya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Sebagaimana firman Allah:
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ…
“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri …” (QS al-Isrâ : 7),
Dalam berbuat baik, Rasulullah SAW, sebagai seorang hamba Allah dimana setiap kata dan dan sikapnya pasti adalah kebenaran. Semua kebaikan yang didasari atas perintah Allah dan RasulNya akan dijamin mendapat balasan kebaikan dengan ganjaran yang lebih baik oleh SWT sebagaimana sabda Rasulullah;
… وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ
“… dan barangsiapa (yang bersedia) membantu keperluan saudaranya, maka Allah (akan senantiasa) membantu keperluannya.” (Hadits Riwayat Bukhari, no. 2442).
Lebih lanjut Rasulullah mengajarkan bahwa setiap amal kebaikan yang diberikan kepada orang lain, maka Allah SWT akan ganjar dengan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda;
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ
Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. (Hadits Riwayat Muslim, Hadits no. 7028).
Banyak cara bisa dilakukan agar menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Bisa dengan menolong dalam bentuk tenaga, memberikan bantuan dalam bentuk materi, memberi pinjaman, memberikan tausiah keagamaan, meringankan beban penderitaan, membayarkan utang, memberi makan, hingga menyisihkan waktu untuk menjenguk / menunggu tetangga yang sakit.
Perlu kita refleksikan bagaimana berkesan semua sikap Rasulullah kepada semua orang, bahkan kepada orang orang yang memusuhinya sekalipun. Seorang Abu Jahal saja mengakui keluhuran sikap Rasulullah, pernah suatu waktu, Abu Jahal berkata, “wahai Muhammad sesungguhnya kami tidak mendustakanmu, tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa, kemudian turunlah ayat Al Qur’an surat al- An’am : 33).
قَدْ نَـعْلَمُ اِنَّهٗ لَيَحْزُنُكَ الَّذِيْ يَقُوْلُوْنَ فَاِ نَّهُمْ لَا يُكَذِّبُوْنَكَ وَلٰـكِنَّ الظّٰلِمِيْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ
“Sungguh, Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (Muhammad), (janganlah bersedih hati) karena sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: Ayat 33).
Artinya bahwa begitu penting berbagi sikap kebaikan dan kebermanfaatan maka diksi yang digunakan dalam konteks hadits tersebut adalah diksi kata umum; khairunnas (sebaik baik manusia) adalah bermanfaat linnas (untuk manusia). Artinya bahwa jika ingin derajat yang lebih baik dari manusia lainnya, maka cuma satu kata berbuat manfaatlah kepada sesama manusia.
Seberat apapun kebaikan yang kita perbuat, pasti Allah SWT balas dengan balasan yang sepadan.
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya .” (QS al-Zalzalah : 7)
Kalaupun kita tidak cukup mampu berbuat kebaikan untuk orang banyak, paling kurang kepada keluarga dekat, kita meninggalkan jejak kebaikan. Kehidupan pasti berakhir, boleh jadi hidup yang kita jalani tidak cukup disegani, tapi kita berusaha untuk tidak pergi tanpa meninggalkan kesan kebaikan kepada orang orang yang kita cintai. Akhirnya semoga Allah SWT selalu memberikan kita petunjuk dan ampunanNya.
