REFLEKSI NUZULUL QUR’AN: SEJARAH, MAKNA DAN AMANATNYA

Lalu Darmawan

Pembaca budiman yang saya banggakan, di penghujung Ramadhan Kareem, penulis menyampaikan materi tentang Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr, Dua materi itulah pada waktu terakhir sering dibahas diberbagai majelis taklim dan pengajian, sehingga ada beberapa materi pengajian tersebut saya sadur, diantaranya, dari materi pengajian Nuzulul Qur’an di Masjid Baiturrahim Penujak oleh M. Faldi Al Hamda.
Bulan Ramadhan, sebelum kemudian dikenal sebagai Bulan wajib Puasa bagi Umat Islam, adalah bulan yang dikenal sebagai bulan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

Nuzul Qur’an terjadi sekitar 14 tahun sebelum perintah puasa diturunkan. Membahas peristiwa Nuzulul Qur’an tidak bisa lepas dari membahas Rasulullah, sebab Rasulullah adalah isi dari peristiwa tersebut.

Disebutkan bahwa peristiwa Nuzulul Qur’an terjadi dari rentetan peristiwa yang dialami pada diri Rasulullah.

Menurut Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury, jauh waktu sebelumnya, Rasulullah memiliki keistimewaan, dengan keistimewaan itu, betapa kemudian Muhammad bin Abdullah sangat populer dikalangan bangsa yang mendiami jazirah arab saat itu.

Disebutkan, saat Rasulullah berusia 35 (tiga puluh lima) tahun, beliau mendapat gelar Al Amin. Gelar ini Rasulullah peroleh saat para pemuka Quraisy tengah bersitegang siapa yang berhak menaruh kembali Hajar Aswad pasca renovasi Ka’bah.

Perselisihan itu terjadi sampai 5 hari, perselisihan itu berhasil diselesaikan setelah Umayyah bin al Mughirah al Makhzumi mengusulkan agar mencari penyelesaian kepada orang yang paling pertama mendatangi Ka’bah melalui pintu masjid, dan usul tersebutpun disepakati, maka mereka dengan seksama menunggu siapa gerangan orang yang dinanti nanti kedatangannya. (Shafiyurrahman, 2008: 66).

Dengan segala kehendak Allah SWT, Muhammad Rasulullah adalah orang pertama yang mendatang Ka’bah melalui pintu masjid. Rasulullah dalam menyelesaikan perselisihan tersebut dengan melibatkan perwakilan kabilah untuk meletakkan kembali Hajar Aswad ketempat semula.

Maka sejak saat itu beliau dikenal dengan gelar Al Amin yang berarti orang yang dipercaya.

Pada saat usia 40 tahun, Nabi Muhammad memiliki kegemaran untuk menyendiri, beliau melepas popularitas, kemapanan dan kesuksesan yang beliau raih sebagai tokoh terpandang yang tidak memiliki cela dan aib sosial.

Sehingga terjadilah peristiwa Nuzulul Qur’an di Gua Hira. Dijelaskan bahwa peristiwa Nuzulul Quran terjadi pada Hari Furqan yaitu hari kemenangan umat Islam atas Perang Badar.

Menurut catatan sejarah, perang ini terjadi pada Jumat, 17 Ramadhan 2 H.
Pendapat inilah yang kemudian oleh ummat Islam diperingati sebagai malam peringatan Nuzulul Qur’an. Termasuk kita di Indonesia.

Pada pendapat yang lain disebutkan bahwa peristiwa Nuzulul Qur’an terjadi pada hari Senin malam tanggal 21 Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 10 Agustus tahun 610 M. Saat itu usia Rasulullah berusia 40 tahun 3 bulan 21 hari (Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury : 1998: 73).

Diriwayatkan dari para imam hadits, disebutkan dari Abu Qatadah, Rasulullah ditanya tentang shaum hari Senin, Beliau bersabda; pada saat itu, aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku (Shahih Muslim I: 368, Ahmad, V: 279, 299. Al Baihaqi IV: 300, 386. Al Hakim, XX: 602). Hari Senin bulan Ramadhan pada tahun tersebut (610 M) jatuh pada hari ke 7, 14, 21, 28).

Ayat pertama yang turunkan yaitu surat Al Alaq ayat sampai 1 sampai 5. Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah di Gua Hira, lalu berkata ‘Bacalah’, beliau jawab ‘aku tidak dapat membaca’,
Rasulullah menceritakan lebih lanjut; Malaikat itu lalu mendekati aku dan memelukku sehingga aku merasa lemah sekali, kemudian aku dilepaskan, Ia berkata lagi ‘Bacalah’, aku menjawab ‘aku tidak dapat membaca’.

Ia mendekatiku lagi dan mendekapku sehingga aku merasa tidak berdaya lagi sama sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi ‘Bacalah’. Aku menjawab aku tidak dapat membaca.

Untuk ketiga kalinya ia mendekatiku aku dan memelukku sehingga aku merasa lemas, kemudian aku dilepaskan selanjutnya ia berkata,

اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,”

خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَ كْرَمُ

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.”

الَّذِيْ عَلَّمَ بِا لْقَلَمِ

“Yang mengajar (manusia) dengan pena.”

عَلَّمَ الْاِ نْسَا نَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Dua kali kata ‘bacalah’ terulang, dalam kaedah bahasa Arab, kata إقرا disebut kata yang berbentuk amr atau perintah, pertama bacalah dengan menyebut Rabbmu. Kedua, ‘bacalah’, dan Rabbmu yang maha pemurah.

Menurut Cendekiawan Muslim Indonesia Prof Quraish Shihab memaknai iqra’ pada kata pertama Surat Al-Alaq yang berarti bacalah. Makna membaca dalam ayat ini tidak hanya membaca teks saja yang menyertakan tulisan. Membaca tidak harus dari sesuatu yang tertulis dalam bentuk aksara-aksara.

Prof Quraish menambahkan, ketika Tuhan memerintah Rasulullah untuk membaca tidak lah disebutkan objeknya. Karena Tuhan memerintahkan untuk membaca apa saja, tetapi kaitkan bacaan tersebut dengan niat memperoleh bantuan Tuhan.

Menurut ia, untuk mencapai kemajuan dalam membangun peradaban diperlukan seseorang yang banyak membaca. Membaca bukan hanya dari sesuatu yang tertulis, tetapi segala sesuatu yang dapat dilihat itu hendaknya dapat dibaca.

Selanjunya, bulan Ramadhan, selain sebagai bulan Nuzulul Qur’an, bulan wajib Puasa, juga sebagai bulan yang memiliki 1 malam yang lebih baik dari 1000 bulan, itulah yang disebut Lailatul Qadr. Sebagaimana firman Allah SWT pada surat Al Qadr

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr 97: Ayat 3)

Bicara soal Lailatul Qadr, Allah berfirman:
وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (QS. Al-Qadr 97: Ayat 2).
Makna kata ادراك pada surat Al Qadr, oleh para mufassir membedakan kata ‘adroka’ أدراك dan kata “yudrika” يدريك .
Kata adraka أدراك memang menunjukan ketidakmampuan menguasai pengetahuannya tapi kemudian Allah memberitahukan setelahnya.
Termasuk dalam hal Lailatul Qadr, setelah ditanyakan dengan kalimat “ma adroka” ماأدراك ayat berikutnya Allah lalu menjelaskan bagian terpenting dari Lailatul Qadr. Yaitu malam (hari) yang lebih baik dari seribu bulan.

Yang ditanyakan dengan مَا أدراك adalah substansi. Sementara yang diberitahukan Allah adalah sifat-nya. Yakni masih banyak sisi Lailatul Qadr yang belum diberitahukan menuju substansinya.

Termasuk kepastian tanggalnya setiap tahun. Hanya saja karena redaksinya “adraka” أدْرَاكَ maka bagian-bagian dari Lailatul Qadr yang belum dijelaskan itu tetap terbuka untuk dapat diketahui.
Berbeda dengan “yudrika” يُدْرِيكَ Allah tidak memberitahukan pengetahuannya sedikit pun dalam Al-Quran kepada Rasulullah SAW dan atau kepada siapapun, termasuk para malaikat. Hanya Dia yang tahu. Yaitu tentang kapan terjadinya Kiamat.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa Nuzulul Qur’an adalah peristiwa dan jawaban Allah SWT secara langsung kepada Nabi Muhammad, atas kerisauan beliau melihat situasi kejahilyahan umat manusia saat itu.
Nuzulul Qur’an merupakan penegasan Allah SWT terhadap penyempurnaan ketauhidan dan penataan peradaban umat manusia dan alam.

Dengan Al Qur’an manusia diberikan petunjuk dan penjelasan sebagai pembeda antara yang benar dengan yang bathil. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185.

Nuzulul Qur’an sekali lagi mengamanatkan kepada kita betapa penting penguasaan ilmu pengetahuan, dan hidup manusia seutuhnya hanya untuk mengabdi kepada Allah, karena hanya Allah SWT yang patut diagungkan وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ .

Kualitas hidup sangat ditentukan oleh ilmu pengetahuan, sehingga muncul adagium, karena ilmu pejabat jadi berkualitas, karena ilmu juga penjahat jadi berkualitas. Pernyataan ini sekali ingin mengingatkan kita betapa ilmu pengetahuan memiliki kedudukan terpenting dalam upaya menyelenggarakan suatu peradaban.
Karena ilmu juga keistimewaan manusia dapat terwujud sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna (ahsani takwim).

Akhirnya semoga Allah SWT memberikan kita ampunan, dan menganugerahkan kita pengetahuan dari ilmu yang tidak kita fahami, memberikan kita ingatan dari semua yang kita lupa, dan memberikan rezeki dari yang kita tidak sangka, amin ya Allah ya robbal alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *