Dari Program Hiziban Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah, Bule Pun Ikut Berjilbab Dan Bersarung di Majlis

Lombok Tengah (ntbupdate.com) – Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Muhibbin NW Mispalah Kelurahan Prapen Kecamatan Praya Lombok Tengah (Loteng). Salah satu Ponpes yang berlokasi di pusat Kota Praya, yang telah banyak melahirkan cendikiawan, para alim ulama’, umara’ dan yang lainnya.

Ponpes ini memiliki banyak program unggulan dan ekstrakurikuler, salah satunya di program ekstrakurikuler hiziban keliling di rumah masing-masing wali Santri.

Seperti di Desa Kuta Kecamatan Pujut Loteng misalnya, di tempat ini ada pemandangan yang unik, sejumlah Bule baik laki laki ataupun perempuan, ketika mendengarkan lantunan beberapa do’a dan kalam ilahi.

Malah mereka ikut bergabung bersama para santri dan santriwati, dengan menggunakan jilbab dan sarung, tanpa para bule sangat senang dan bahagia duduk bersama di tengah para santri.

“Program hiziban keliling, ini adalah salah satu program ekstrakurikuler dari sekian program yang di program kan di Ponpes barokan ini,” kata Ustadz Pahri QH SPd. Sabtu (26/4)

Dikatakan, program hiziban ini dilaksanakan sekali sebulan secara berkeliling, terutama ke rumah rumah wali santri dan santriwati, secara terjadwal.

“Terkadang hiziban ini kita lakukan diluar wali santri santriwati, tergantung undangan atau hajatan jama’ah,” sambung ustaz ini.

Dalam rombongan hiziban ini, pihaknya juga membawa rombongan hadrah binaan Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya, di mana tim hadrah memberikan hiburan dengan bacaan syair-syair dan sholawat nabi, baik sebelum hiziban di mulai dan setelahnya.

“Alhamdulillah terkadang, jamaah di luar rombongan atau jamaah setempat ada yang ikut membaca hizib NW,” terangnya.

Memboyong tim hadrah dari Ponpes lanjutnya, di samping jadi hiburan bernuansa islami, pihaknya juga teringat dengan salah seorang wali Songo atau wali Sembilan, yang melaksanakan dakwah dengan kesenian.

Sebut saja seperti Sunan Kalijaga, dalam melaksanakan misi dakwahnya kala itu dengan menggunakan wayang kulit dan tembang suluk. “Berdakwah harus kita imbangi dengan kebutuhan zaman, jika Sunan Kalijaga mengguna wayang kulit dan tembang suluk, di zaman modern ini kita gunakan rebana hadrah, kan tergantung trendnya,” tutupnya. (nu-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *