Kurikulum Berbasis Cinta Dari Antroposentris Ke Teomorfis

Oleh Dr. Lalu Sirajul Hadi, M.Pd
Penulis ; Pemerhati dan Pegiat Pendidikan

GAGASAN bernas, genuine dan kontemplatif cendikiawan Muslim, sekaligus Menteri Agama KH. Nasaruddin Umar dalam memotret problem makro kosmos kehidupan di muka bumi, menjadi sebuah wacana epistemologis dan diskursus baru yang sangat relevan, sekaligus sebagi tantangan (challenge) berperadaban saat ini. Bagaimana pendidikan, sesungguhnya menjadi sesutu yang sangat ekspektatif, dalam mengamban fungsi dan tanggung jawab moral, sosial dan etik, dalam menjaga keseimbangan ekosistem makhluk Tuhan di muka bumi ini, manusia, hewan, alam dan lingkungan.
Manusia yang selama ini merasa memiliki keunggulan dominan (superhuman) dari makhluk Tuhan lainnya, telah memposisikan diri sebagai “subjek” yang tidak jarang berlebihan (overconfidence). Sehingga manusia merasa menjadi serba boleh, dalam melakukan sesuatu dengan mengkapitalisasi eksitensi orang lain dan mahluk Tuhan lainnya. Nilai dan kepentingan matrilalistis pragmatis, secara “sadar” diposisikannya (manusia) sebagai yang terpenting dan tertinggi, sehingga nyaris alpa dan abai terhadap keberadaan mahluk lainnya, bahkan terhadap pencipta makhluk (Tuhan) sekalipun. Sifat manusia yang ekspolitatif, seakan semakin kuat menegaskan, bahwa antropocentrisme, adalah status menuju pada kesuksesan, kepuasaan dan kebahagiaan (nafsu), walaupun harus mengintimidasi dan mendistruksi mahluk lain, lingkungan, alam, hewan dan sumber daya alam lainnya, yang dilakukan atas nama ilmu pengetahuan, tekhnologi, ekonomi, kesuskesan dan kepuasan. Padahal sejatinya, banyak mahluk Tuhan yang juga memiliki hak, kedudukan dan fungsi penting di jagat raya ini. Juga, memiliki tugas mulia dari Tuhan-Nya, untuk menjaga kebaikan, keberlangsungan dan keseimbangan semesta.
Refleksi penting atas fenomena ini, menegaskan tentang bagaimana manusia sebagai “subjek”, harus kembali dituntun dan disadarkan ke arah yang benar. Kepada arah yang lebih dekat, lebih menyatu dan menyelami lagi esesnsi eskosistem semesta ini dengan rasa dan nilai. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang superior, harus sadar bahwa dalam setiap aktivitasnya, senantiasa berada dalam dimensi imani dan rabbani. Itulah idealnya, konsep manusia dalam persepektif theomorfis. Yakni, profile mahluk yang memahami esensi dan universalitas nilai, yang melekat pada semua dimensi mahluk ciptaan Tuhan, sehingga manusia dalam kehidupannya, tidak gersang dari sifat-sifat ilahiyah.
Hadirnya Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), yang dibidani salah satu cendikiawan Muslim Indonesia KH.Nasaruddin Umar, yang juga Menteri Agama RI, bukanlah konsep yang hadir dari ruang hampa. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) hadir dari ruang nyata (faktual) , yang sejatinya telah lama, sesak dan dipadati oleh berbagai penyimpangan prilaku manusia, yang semakin menghawatirkan masa depan peradaban. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) adalah kurikulum yang diharapkan dapat membuat manusia saling mengasihi dan mencintai, sehingga terwujud kedamaian, keselarasan dan pradaban mulia.
Dalam konsep dan praktiknya, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) berlaku pada aspek dan prinsip-prinsip yang fundamental-universal, antara lain ; (1) membangun cinta kepada Tuhan (hablum minallah), (2) membangun cinta kepada sesama manusia, apapun afiliasi dan agamanya (hablum minannas), (3) membangun hubungan cinta dan keperdulian dengan alam dan lingkungan (hablum bi’ah) dan (4) kecintaan kepada bangsa (hubbul wathan).
Relevan dengan prinsip tersebut, dalam implementasi pendidikan dan pembelajaran, di sekolah atau di Madrasah, maka Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) diharapkan dapat menjadi solusi, melalui internalisasi dan insersi nilai-nilai keberagaman, yang tidak terpisahkan dengan muatan (content) mata pelajaran yang diajarkan.
Lembaga pendidikan sebagai “miniatur” sosial kebangsaan, memiliki tanggung jawab yang strategis, dalam turut menghadirkan bangunan cinta dan kasih sayang, melalui relasi-relasi konstruktif yang beradab. Sehingga seluruh eksosistem pendidikan memiliki hubungan baik kepada Tuhan, sesama manusia, alam dan terhadap bangsa. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), harus menjadikan dan membuat elemen manusia sadar terhadap esensi-esensi relasi tersebut. Dalam makna, manusia dalah bukan mahluk yang bebas se bebas-bebasnya, tetapi manusia terikat oleh nilai, dan eksistensi Tuhan yang menciptakannya sekaligus sebagai pencipta (created) mahluk lainnya di muka bumi ini, alam, lingkungan dan tatanan sosial.
Menjadikan lembaga-lembaga pendidikan menjadi epicentrum pradaban, pada hakikatnya selalu beririsan dan linier dengan masa depan. Jika pendidikan hari ini mengajarkan tentang kekekarasan, maka kelak akan hadir generasi-generasi yang kasar penuh kebencian, jika hari ini pendidikan mengajarkan tentang cinta, maka kelak akan hadir generasi-generasi yang saling mencintai dan menghargai.
Pendidikan harus ditarik untuk hadir, sebagai sebuah solusi terhadap meluasnya fenomena dehumanisasi yang terjadi akhir-akhir ini. Merebaknya konflik sosial, tragedi-tragedi kekerasan sesama manusia yang terjadi karena disulut oleh persoalan-persoalan tidak substantif, termasuk kasus-kasus perdagangan manusia adalah “warning” bahwa dehumanisasi tidak boleh menjadi pembiaran. Dalam konteks ini, pemberdayaan dan edukasi umat harus terus dikuatkan pada basis nilai, kemanusiaan dan harmoni kehidupan. Problemnya adalah, jika sesama manusia saja, manusia dengan sangat mudah saling menistakan dan saling memusnahkan, lantas bagaimana dengan kepada mahluk lainnya (kerusakan ekologi).
Sebagai sebuah gagasan baru, Kurikulum Barbasis Cinta (KBC) diharapkan bisa hadir sebagai sebuah “intervensi” sekaligus sebagai sebuah strategi yang efektif, untuk melahirkan pendekatan dan cara, mendesain arah dan tujuan pendidikan, yang tidak saja berorientasi pada akademik, tetapi juga memiliki tujuan untuk membentuk kepribadian, karakter manusia yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, bertanggung jawab dan memiliki sensitifitas yang tinggi, dengan mengedepankan cinta dan kasih sayang, sebagai prinsip dalam berkehidupan. Tugas ekosistem pendidikan, sekolah atau Madrasah adalah, bersegara “membumikan” konsep ini, sehingga menjadi sebuah habituasi dan praktik berkelanjutan, bagi kebaikan masa depan.

Wallahua’lam bissawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *