Walau kita seringkali mendengar ucapan dan penjelasan tentang ikhlas, tapi ijinkan saya untuk kita bersama sama pada kesempatan ini membahas tentang ikhlas kembali.
Harapannya adalah untuk bagaimana caranya ikhlas yang sering terucap tidak berhenti sampai di level kata saja, tetapi bagaimana ikhlas menjadi sikap perilaku kita untuk saling mengingatkan.
Jika ikhlas diartikan secara bahasa, maka memiliki arti (jernih, bersih, suci dari pencemaran, suci dari campuran, baik itu berupa materi ataupun tidak).
Sementara dari aspek terminologis, ikhlas bisa diartikan membersihkan hati agar menuju kepada Allah SWT saja. Dengan kata lain, dalam melakukan ibadah, hati kita tidak boleh menuju kepada selain Allah SWT.
Ikhlas juga bermakna al-ishthifaa’ (pilihan).
Sebagaimana firman Allah SWT :
إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ
Artinya : Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. (Q.S. Shaad : 46).
Inti dari ayat di atas menurut Ibn al-Jauzi yaitu Allah SWT telah memilih mereka dan menjadikannya sebagai orang-orang yang suci.
Hal senada juga disebutkan oleh as-Shabuni yaitu Allah istimewakan mereka dengan mendapatkan kedudukan yang tinggi yaitu dengan membuat mereka berpaling dari kehidupan duniawi dan selalu ingat kepada akhirat.
Dengan demikian, maka ikhlas juga dimaknai at-tathhir (pensucian). Sebagaimana firman-Nya:
إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Artinya: kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka. (Q.S Al-Hijr: 40).
Ayat di atas ditujukan kepada orang-orang yang hatinya telah disucikan oleh Allah SWT dari segala noda dan dosa sehingga mereka menjadi hamba Allah SWT yang bersih dan menjadi kekasih pilihan-Nya.
Sekali lagi, agar supaya kita tidak sekedar berucap saja sebutan ikhlas, mari kita perhatikan beberapa penjelasan para ahli ilmu. Menurut Muhammad Abduh, pengertian ikhlas adalah ikhlas beragama semata-mata hanya untuk Allah SWT.
Dengan selalu berharap kepadaNya dan tidak pernah mengakui kesamaanNya dengan makhluk apa saja dan bukan dengan tujuan tertentu.
Sementara Menurut Muhammad al-Ghazali, pengertian ikhlas yaitu melakukan amal kebaikan dengan tujuan semata-mata karena Allah SWT.
Selanjutnya Menurut Imam Al-Qusyairi, pengertian ikhlas menurut Imam Al-Qusyairi di dalam kitabnya yang berjudul Risalatul Qusyairiyah (1990: 183) yaitu ikhlas adalah bermaksud menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan.
Berikutnya menurut Hamka, 1983: 95) ikhlas memiliki makna bersih dan tidak ada campuran. Ibarat emas, ikhlas adalah emas yang murni, tidak ada campuran perak sedikit pun. Pekerjaan atau sikap nyata yang bersih dan murni demi Allah, bukan karena perkara lain atau tujuan tertentu.
Sementara menurut Syekh Ibnu Atha’illah (2012: 14) pengertian ikhlas mengungkapkan bahwa kata ikhlas yaitu melakukan amal ibadah semata-mata ditujukan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya zat yang mempunyai hamba.
Nah, setelah kita membahas arti atau pengertian ikhlas, tentunya dalam kehidupan sehari hari kita akan berkeinginan untuk menjadi orang yang ikhlas, lalu pertanyaannya bagaimana cara kita dapat mengukur diri kita dahulu apakah kita sudah ikhlas atau belum ?.
Kita awali dengan memahami variabel atau cara mengukur ciri-ciri ikhlas dalam sikap dan perilaku sehari-hari; hal ini penting sebab mengukur keikhlasan orang lain tentu bukan otoritas kita, maka hal yang dapat kita ukur adalah level keikhlasan kita masing masing dengan cara.
1 . Tidak suka dipuji. Setiap sikap dan perilaku yang ia perbuat bukan untuk memperoleh pujian.
2. Tidak berambisi menjadi pemimpin. Setiap amanah yang diembannya tidak ia raih karena ambisi ingin disegani, ingin dihormati dengan berlebihan, menjabat atau tidak menjabat dalam jabatan birokrasi atau perusahaan, didalam hati dan pikirannya bukan suatu tujuan, tapi jabatan adalah bagian dari proses pengabdian kepada Allah SWT.
3. Mendengarkan nasihat. Sebagai manusia yang melekat sifat lupa dan salah, tentu dalam pergaulan sehari hari kita membutuhkan nasehat, maka orang yang ikhlas juga dicirikan dengan menerima nasehat dan pandangan orang lain.
Seringkali seseorang jatuh dari suatu jabatan karena abai dengan nasehat orang lain, banyak orang mengalami kehancuran juga karena sebab abai terhadap nasehat orang yang menyayanginya. Maka orang-orang sukses dan berhasil meraih cita citanya, selain karena usaha ikhtiarnya juga karena mendengar nasehat orang lain.
4. Menganggap sama pujian dan hinaan. Tidak pamrih, tidak berharap berlebihan atau biasa diistilahkan tidak lebay adalah kunci kita untuk mampu merasakan nikmat ikhlas (ma’lazatil ibadah) pujian atau hinaan di dalam hati dapat diposisikan sama, contoh seseorang sangat rajin pergi ke masjid mendirikan sholat berjamaah, tentu ada saja orang atau temannya menilai, bahkan dibilangin sok alim, sok shalih, orang baru tobat dan bulliying lainya, nah dalam situasi inilah perasaan hati harus ditata sedekian rupa agar supaya mengganggap bulliying itu bukanlah sesuatu yang berarti.
Atau pujian yang terhormat, yang mulia, dan pujian lainnya, dalam sikap orang yang ikhlas pujian tersebut segera dikembalikan kepada Allah Yang Maha Terpuji. Bagi orang ikhkas ungkapan hinaan atau pujian itu tidak mempengaruhi perasaan dan pikirannya.
5. Melupakan amal baik. Setiap kebaikan yang kita perbuat kepada orang lain tentu kita berharap orang itu akan mengingat kebaikan itu, bagaimana jika ia melupakan kebaikan yang pernah kita berikan, Apakah kita kecewa ? Tentu kita akan kecewa, kalau sudah kecewa, lalu apa yang kita dapat? Marah, benci, kapok berbagi atau mengatai mereka, lalu apakah kita puas ?.
Ternyata tidak, maka benar, salah satu ciri orang ikhlas adalah melupakan setiap amal baik yang kita berbuat. Biarkan kewenangan Allah SWT yang menilai.
Jika memang perbuatan kita sudah tepat, yakinlah bahwa balasan Allah SWT yang paling pasti dan terbaik.
Jika ciri ciri ikhlas itu sudah hadir dalam perilaku alam pikiran dan perasaan seseorang, maka sikap ikhlas itu akan mendatangkan kebahagiaan dan kemuliaan dari Allah SWT, tentu berbeda jauh cara Allah mengangkat derajat hambanya yang ikhlas dengan yang tidak ikhlas.
Diantara kemuliaan yang akan diraih oleh orang ikhlas yaitu memperoleh ganjaran sumber rezeki dan pahala yang besar, selamat dari segala adzab dunia dan akhirat, tidak akan mengalami ketersesatan, pikirannya selalu luas bagaikan cahaya yang terus menerus memberikan terangnya solusi dari setiap masalah dirinya maupun orang lain.
Keselamatan dan bahagianya di akhirat nanti tercermin dengan bahagianya di dunia saat ini.
Hidupnya penuh tenang, bersih pikiran, bersih perasaan, hidup tidak menjadi beban orang lain.
Demikianlah, pembahasan kita tentang ikhlas, semoga kita dapat dikelompokkan dalam golongan orang-orang yang ikhlas (al faqir).
