SEJARAH, HIKMAH DAN KHASIAT PUASA RAMADHAN

Lalu Darmawan

Penulisan kata ramadan atau ramadhan dalam KBBI yang sesuai adalah ramadan, tapi untuk keperluan penulisan dalam artikel ini saya lebih cenderung menggunakan ejaan Ramadhan, untuk memastikan pengucapan huruf dhat pada kata ramadhan.

Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi umat Islam. Di bulan ini, umat Muslim di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa, menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Tetapi, penting kita tahu bahwa puasa Ramadhan memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak zaman Nabi Nuh As.

Perintah untuk menjalankan puasa Ramadhan tidak turun secara langsung ketika Islam hadir di tanah Arab. Syariat ini diturunkan secara bertahap, menyesuaikan keadaan umat pada waktu itu. Bahasan kita di awal bulan ini membahas sejarah disyariatkannya puasa Ramadhan, hikmah dan khasiat serta keutamaannya bagi umat Islam.

Menurut Imam Al-Qurthubi, Nabi Nuh AS adalah nabi pertama yang melaksanakan puasa. Setelah diselamatkan dari badai besar yang menghancurkan kaumnya, Nabi Nuh AS dan pengikutnya berpuasa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Namun, puasa yang dilakukan pada masa itu belum memiliki aturan seperti puasa Ramadhan yang kita kenal saat ini.

Sementara pada masa Nabi Muhammad SAW Puasa Ramadhan pertama kalinya disyariatkan pada Senin, 10 Syaban tahun kedua Hijriah atau satu setengah tahun setelah Rasulullah SAW dan umatnya hijrah dari Makkah ke Madinah.

Sebelum kewajiban puasa Ramadhan diturunkan, Nabi Muhammad SAW dan sahabat sahabat beliau sudah terbiasa melaksanakan puasa pada hari-hari tertentu. Misalnya, puasa tiga hari setiap bulan pada tanggal 13, 14, dan 15 (Ayyamul Bidh), serta puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.

Perintah wajib puasa merupakan perintah Allah SWT sebagaimana berlaku pada umat umat terdahulu, yang dihajatkan untuk membentuk hamba Allah yang bertaqwa. Sebagaimana firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa Ramadhan bukan sekedar kewajiban, tetapi juga membawa semangat untuk membentuk perilaku takwa. Puasa ini berlangsung selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, menegaskan tradisi puasa sebelumnya.

Selama hidupnya, Rasulullah SAW melaksanakan puasa Ramadhan sebanyak sembilan kali. Puasa ini menjadi salah satu ibadah yang diutamakan, sebagaimana sabda beliau:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Puasa Ramadhan sekali lagi bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi memiliki tujuan yang sangat mendalam, membentuk Ketakwaan. (Bahasan tentang takwa pada bagian lain).

Dengan menahan diri dari hal-hal yang dihalalkan, umat Islam dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu dan fokus mendekatkan diri kepada Allah.
Begitu istimewanya ibadah puasa, maka banyak ahli melakukan riset mengenai puasa. Diantaranya datang dari ahli biologi sel Jepang Yoshinori Ohsumi, menurutnya puasa dapat mengaktifkan autophagy.

Autophagy merupakan istilah Yunani yang berarti ‘memakan diri sendiri’. Secara ilmiah, autophagy dikenal sebagai kemampuan sel dalam tubuh untuk memakan atau menghancurkan komponen tertentu di dalam sel itu sendiri.

Melalui penelitiannya, Ohsumi menemukan bahwa autophagy memegang peran besar dalam tubuh. Mekanisme ini berperan besar dalam mengontrol fungsi-fungsi fisiologis penting di mana komponen sel perlu didegradasi dan didaur ulang.
Dengan autophagy, sel dapat mengisolasi bagian dari sel yang rusak, mati, tidak bisa diperbaiki, terserang penyakit, maupun terinfeksi.

Setelah mengisolasi bagian yang bermasalah, sel kemudian menghancurkan bagian tersebut menjadi sesuatu yang tidak membahayakan dan melakukan daur ulang untuk menghasilkan energi dalam sel.

Dari mekanisme ini, komponen- komponen sel yang rusak akan dibangun dan diperbaharui kembali. Pada kasus sel yang terkena infeksi, autophagy juga dapat mengeliminasi bakteri atau virus penginfeksi. Tidak hanya itu, autophagy juga berkontribusi dalam perkembangan embrio hingga pencegahan dampak negatif dari proses penuaan.

Karena autophagy berkaitan dengan kondisi kesehatan seseorang, gangguan dalam proses autophagy juga dapat menyebabkan masalah kesehatan. Beberapa masalah kesehatan yang berkaitan dengan terganggunya proses autophagy ialah diabetes, kelainan saraf, kanker, dan berbagai penyakit yang berkaitan dengan usia.

Berdasarkan penelitiannya, Ohsumi menemukan satu cara sedernana untuk ‘memancing’ terjadinya autophagy dalam sel. Seperti dilansir dari laman resmi www.buchinger-wilhelmi.com cara tersebut ialah berpuasa.

Ohsumi menemukan bahwa kunci untuk ‘mengaktivasi’ proses autophagy pada sel ialah kondisi kekurangan nutrisi. Di sisi lain, berpuasa membuat otak menerima sinyal bahwa tubuh sedang kekurangan makanan dan mencari-cari makanan yang tersisa dalam tubuh.
Proses ini membuat autophagy teraktivasi dan sel mulai melakukan perusakan terhadap protein yang rusak ataupun tua di dalam tubuh.

Ketika kadar insulin dalam tubuh menurun, glucagon mulai bekerja dan membersihkan sisa-sisa sel yang telah mati atau rusak.

Selama proses ini, tubuh harus terbebas dari makanan atau minuman minimal selama 12 jam, sesuai dengan durasi berpuasa umat Muslim pada umumnya. Sedikit saja makanan atau minuman yang masuk ke tubuh sebelum 12 jam dapat membuat proses autophagy terhenti.

Sehingga bagi orang yang sedang berpuasa reaksi tubuh terjadi setelah 12 jam masa puasa, misalnya jika makan sahur jam 03.00 maka reaksi tubuh akan terjadi tepat di atas jam 15.00, coba saja diuji / dirasakan secara langsung bagaimana reaksi sel sel dalam tubuh terdegradasi.

Kondisi itu akan lebih terasa jika barengi dengan kontemplasi, zikir atau belajar.
Dengan demikian, maka jangan heran ketika saat berbuka puasa semua jenis makanan atau minuman berasa sangat nikmat dan lezat.

Jika kita mau menguji lezat mana air mineral dengan es juice buah segar ?. Maka bagi orang yang sedang berbuka puasa, kenikmatannya adalah saat berbuka puasa. Bukan pada jenis makanan atau minumannya.

Dr. Okto Prihermes, Sp.KJ. juga mengulas dengan detil bagaimana puasa dapat menjadi terapi kesehatan fisik dan kesehatan mental. Bahkan dalam banyak layanan terapi puasa dapat menjadi resep memproduksi penampilan yang sehat dan fresh.

Betapa besar hikmah dan khasiat puasa dapat disajikan tunai, maka marilah kita berusaha dengan sepenuh jiwa dan raga mengisi kesempatan puasa ramadhan kali ini dengan optimal. Semangat berbagi ilmu, berbagi rezeki, berbagi kebahagiaan. Semoga Allah SWT ijabah segala niat dan doa kita. (al-faqir)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *