Sebagaimana bahasan kita sebelumnya bahwa puasa Ramadhan tidak hanya bermakna menahan makan dan minum, tapi mengusung semangat membentuk sumber daya orang orang beriman menuju ketakwaan.
Panggilan terbaik dituju khusus kepada orang orang yang beriman untuk melaksanakan puasa, dengan standar capaian tertinggi adalah takwa.
Oleh karena itu, marilah kita pada kesempatan kali ini melanjutkan pembahasan apa makna takwa ?bagaimana mengukur sikap takwa ? Dan apa variabel ukurannya ?.
Takwa bermakna sikap mental yang positif, waspada dan mawas diri sedemikian rupa sehingga dapat melaksanakan segenap perintah Allah dan menjauhi segala larangannya, takwa disebutkan di dalam Al Qur’an sebanyak 232 kali dengan berbagai macam bentuknya.
Mengutip penjelasan KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam memaknai definisi takwa ia memulai dari menerangkan tashrif atau asal usul kata takwa, waqo, yaqi, wiqoyatan, kemudian mengikuti wazan iftaala jadi ittaqo, yattaqi, ittiqoan, yang berarti mencegah dalam pengertian lebih luas mencegah agar hal buruk tidak terjadi.
Begitu banyak hikmah dan ganjaran kebaikan yang diperoleh bagi orang orang yang bertakwa, diantaranya diberikan karunia rezeki dari sumber yang tidak disangka-sangka, dicintai Allah SWT, dijamin hidup bahagia dunia dan akhirat serta keistimewaan lainnya.
Tentu semua kita ingin digolongkan menjadi orang yang bertakwa, tapi pertanyaannya bagaimana cara menuju takwa ?.
Salah satu cara menuju ketakwaan adalah melaksanakan puasa Ramadhan. Selanjut apabila kita sudah melaksanakan puasa Ramadhan lalu kita dapat disebut takwa ?.
Ternyata tidak cukup, melainkan harus menunjukkan sikap sebagaimana pedoman perilaku orang yang bertakwa berdasarkan tiga prinsip didalam Al Qur’an; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imran: Ayat 133)
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
“(yaitu) orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: Ayat 134)
Ayat diatas memandu kita untuk dapat mengukur apakah kita termasuk orang bertakwa atau belum bertakwa.
Pertama, prinsip yumfiqu fi sarra wa darra, berdonasi atau berinfaq di waktu lapang maupun waktu sempit. Kelulusan kita dalam berpuasa diukur dengan ketulusan kita mengorbankan sebagian kekayaan kita dan menaruh kepedulian kepada mereka yang lemah. Ayat tersebut menggunakan diksi kata kerja yang bersifat mudhari’ yumfiquna yang bermakna aktivitas itu berlangsung sustainable / terus menerus.
Itulah mengapa zakat fitrah diwajibkan pada bulan Ramadhan dan berlaku bagi seluruh umat Islam, semata mata untuk memancing (menstimulus) bagi segenap kepedulian sosial. Artinya bahwa berpuasa tidak cukup dengan shaum fi nahar (siang puasa) dan qiyam al lail (malam tarawih).
Tapi harus berbagi harta, coba saja kita perhatikan setiap perintah dirikan sholat selalu sepaket dengan perintah tunaikan zakat. Artinya bahwa kesempurnaan makna dirikan sholat (habluminallah) setali seikat dengan kesempurnaan makna tunaikan zakat (habluminannas).
Kedua, prinsip menahan amarah. Marah merupakan gejala manusiawi. Tapi orang yang bertakwa tidak akan mengumbar marah begitu saja. Kata kadzim (berarti orang yang menahan) serumpun dengan kata kadzimah ( yang berarti termos).
Keduanya memiliki fungsi membendung yang pertama membendung amarah dan yang kedua membendung air panas.
Maka idealnya kalau orang sedang marah baiknya seperti cara kerjanya termos membendung amarah di dadanya sehingga orang orang disekitarnya tidak tahu kalau ia sedang marah. Boleh jadi ia tetap marah tapi ketakwaan mencegahnya melampiaskan karena tahu mudharat yang akan ditimbulkan. Termos hanya menuangkan air panas pada saat dibutuhkan dan jelas nilai manfaatnya. Maka sekali lagi puasa adalah metode melatih mengelola amarah dengan baik.
Ketiga, prinsip memaafkan kesalahan orang lain, salah satu anjuran yang sangat diutamakan dalam bulan Ramadhan adalah banyak beristighfar, memohon ampunan kepada Allah SWT.
Begitu pentingnya maaf, maka dengan penuh ketundukkan kita bersimpuh memohon kepada Allah atas segala salah dan khilaf kita. Dalam hati kita mengiba jangan sampai Allah tolak permohonan maaf kita. Semua kita tidak mungkin suci dari kesalahan, lalu alasan apa yang membuat kita tidak dapat memaafkan kesalahan orang lain sepanjang orang itu memohon maaf kepada kita ?.
Dalam kitab akhlak yang ditulis Ibnu Hajar Alhaitami, Zawajir An Iqtirofil Kabair, suatu ketika Rasulullah berkumpul dengan para sahabat, tiba tiba saat itu Rasulullah mengatakan akan ada ahli surga yang datang. Dan datanglah seorang sahabat Anshar yang masuk ke dalam masjid, kejadian itu berulang ulang.
Sahabat sahabat merasa bingung dan bertanya tanya mengapa sahabat Anshar tersebut dikatakan ahli surga oleh Rasulullah? Karena begitu penasaran, Abdullah bin Amr bin Ash berinisiatif mencari tahu amalan apa yang dilakukan oleh sahabat Anshar tersebut.
Setelah mengetahui rumahnya sahabat Anshar itu, Abdullah bin Amr meminta ijin untuk menginap selama 3 hari, Abdullah bin Amr berkata;
فلم ترك عملت كبير عمل
Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar.
فما الّذي بلغ بك ماقال رسول الله صلى الله عليه وسلّم
Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?
Sahabat Anshar lalu menjawab;
ما هو إلّا ما رأيت غير انّي لاأجد لأحد من المسلمين في نفسي غشّا ولا أحسد على خير أعطوه الله تعالى ايّاه
Sebagaimana engkau lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa apa, tapi sungguh didalam hati sanubariku tidak menyimpan rasa kebencian kepada sesama muslim dan tidak iri terhadap kebaikan yang Allah berikan kepada orang yang Dia kehendaki.
Dengan demikian untuk menuju takwa, sikap berbagi rezeki, sikap (menahan amarah) dan sikap memohon maaf dan menerima maaf adalah prinsip dalam mengukur keberhasilan puasa Ramadhan seseorang menuju predikat takwa. Akhirnya marilah kita berdoa semoga Allah memberikan kita ampunan, kesehatan, kekuatan, taufiq dan petunjukNya. (Al-faqir)
