Kisah Inspiratif, ASA Jadi Alumni Ponpes NW Mispalah, Temukan Jati Diri Yang Mandiri

Oleh: Pulan

Bagi sebagian orang, nama adalah doa. Bagi Ahmad Syauqi Alfaini yang akrab dipanggil ASA, namanya adalah sebuah bahan bakar. Asa berarti harapan, dan sepanjang hidupnya, pemuda ini adalah perwujudan dari harapan yang menolak untuk padam, sekeras apa pun badai menempa.

Perjuangan Asa tidak dimulai saat ia dewasa, ia mulai ketika jemari kecilnya bahkan belum kuat menggenggam dunia. Sejak usia Madrasah Ibtidaiyah (MI), Asa harus bersekolah di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya.

Di saat anak-anak seusianya bermanja di pangkuan ibu selepas bel sekolah berbunyi, Asa harus bergelut dengan jarak dan sunyi.

Jauhnya akses membuat Asa kecil terbiasa dijemput oleh mobil patroli PAM Swakarsa untuk bisa pulang dan pergi menuntut ilmu. Namun, alih-alih meratap karena terpisah dari hangatnya pelukan orang tua, Asa justru mengubah ruang-ruang kelasnya menjadi ruang pelampiasan rindu. Di atas meja kayu sekolah, ia tumpahkan seluruh emosinya menjadi energi belajar. Jarak bukan pemisah, melainkan jembatan yang sedang ia bangun menuju masa depan.

Memasuki usia Madrasah Tsanawiyah (MTs), langkah kakinya membawa Asa ke gerbang Pondok Pesantren Darul Muhibbin NW Mispalah Kelurahan Prapen Kecamatan Praya LombokTengah.

Di sinilah babak baru jiwanya ditempa, menjadikan ASA, seorang pemikir yang tidak mau kalah dengan kerasnya hidup ini, berkat didikan di Ponpes di Jantung Kota Praya ini, ia tumbuh berkembang jadi seorang santri dan hafidz dan saat ini aktif sebagai Pelatih Futsal MA Mu’allimin NW Anjani, Kepala MDIT Dialma NW Labuan Pandan dan Operator PAUD Arraihan NW. Sekaligus Staff guru SMP Terpadu NW Sambalia

Kehidupan pesantren adalah laboratorium kesabaran. Asa kadang akrab dengan antrean panjang dan ujian kekurangan air bersih dan sabar dalam mengisi program asrama, hal yang memaksa para santri memeras keringat dan keikhlasan. Namun, di tengah jauhnya jarak dg orang tua, ruh spiritualnya justru tumbuh raksasa.

Seringkali, akibat lelah yang teramat sangat setelah seharian mengabdi dan belajar, Asa terlelap di beranda rumah Abah guru. Ia tertidur bukan karena malas, melainkan karena matanya sayu setelah berjam-jam memeluk mushaf, mengulang dan menjaga ayat-ayat suci (murajaah) hingga larut malam. Di beranda sunyi itu, malaikat menyandarkan mimpinya.

Beranjak remaja, Asa mengepakkan sayap lebih tinggi. Memiliki minat dan kecerdasan yang luar biasa, ia berhasil masuk ke sekolah kursus penerbangan. Asa membuktikan kapasitasnya; ia lulus dengan predikat dan nilai yang sangat istimewa. Langit seolah siap menyambutnya.

Namun, hidup terkadang menyuguhkan plot yang getir. Karena benturan birokrasi dan aturan yang dinilai tidak berpihak pada putra bangsa di republik ini, ijazah penerbangan yang diraihnya dengan air mata dan biaya itu belum bisa menuai harapan yang semestinya. Langkahnya dijegal oleh sistem di saat ia siap terbang tinggi.

Kecewa ? Pasti. Namun, seorang santri yang ditempa ayat suci tidak mengenal kata patah arang.

Asa melipat seragam penerbangannya, berganti pakaian kerja, dan turun ke bumi dengan kepala tegak. Demi menyambung hidup dan mencari tambahan rezeki yang halal, ia mengesampingkan gengsi kelulusan istimewanya.

Di Kota Mataram, ia tersenyum ramah setiap hari sebagai pelayan di salah satu gerai Alfamart.

Tak berhenti di sana, ia merantau melintasi selat, menuju Taliwang, ibu kota Kabupaten Sumbawa Barat, untuk belajar menjadi resepsionis obat (farmasi).
Dari dinginnya AC minimarket hingga aroma obat-obatan di Taliwang, Asa sedang menulis riwayat hidupnya: bahwa harga diri seorang laki-laki bukan terletak pada jabatannya, melainkan pada keringat halalnya.

Hari ini, jika Anda berkunjung ke Lombok Timur, Anda akan melihat Asa sebagai sosok yang utuh. Pemuda yang gemar menggocek si kulit bundar di lapangan hijau ini telah kembali ke almamaternya, MA Muallimin NW Anjani, bukan lagi sebagai siswa yang mencari arah, melainkan sebagai pelatih sepak bola yang menanamkan mental juara pada adik-adik kelasnya.
Lebih dari itu, Asa kini memikul amanah berat namun mulia. Ia berdiri tegak sebagai tulang punggung di DIALMA (Diniyah Al Ma’mun) Pondok Pesantren Al Ma’mun NW Lombok Timur. Di pundaknya yang kokoh, keberlangsungan pendidikan agama anak-anak bangsa diandalkan.

Di sela-sela pengabdiannya yang padat sebagai pendidik dan pengasuh, Asa tidak pernah berhenti menyiram otaknya dengan ilmu. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa aktif di Fakultas Sastra, Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram.

Ahmad Syauqi Alfaini adalah bukti hidup bahwa “Asa” atau harapan itu tidak akan mati selama pemiliknya terus berjalan.
Ia adalah pengingat bagi kita semua: bahwa kesuksesan sejati bukanlah tentang seberapa mulus jalan yang kita lalui, melainkan tentang seberapa banyak kita bangkit dan seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada sesama setelah kita dijatuhkan oleh keadaan. Asa telah membuktikannya, ia tidak kalah, ia justru sedang menang dengan cara yang paling terhormat. (**).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *