Amankan Budaya Tembung, Polsek Prateng Terjunkan Anggota Skala Besar

Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Perang Tembung atau yang lebih dikenal sebagai Perang Timbung adalah tradisi sakral Suku Sasak di Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).

Perang Timbung digelar setahun sekali pada hari Jumat di bulan keempat penanggalan tradisional Sasak (Warige).

Dalam ritual ini, masyarakat biasanya membeludak ingin menyaksikan secara langsung, sehingga mengakibatkan arus lalu lintas di jalan Praya Mujur Keruak, khususnya di Makam Serewa Desa Pejanggik Kecamatan Praya Tengah Loteng atau pusat budaya perang Timbung, macet total.

Guna mencegah terjadinya kemacetan, Polsek Praya Tengah Loteng IPTU Dahmanto menerjunkan anggotanya dengan sekala penuh.

“Semua personil kita Terjunkan, baik Babinkamtibmas yang bertugas di beberapa Desa dan kelurahan yang masuk di Praya Tengah, kita tarik untuk ikut mengamankan jalannya budaya perang Timbung,” katanya, Jumat (21/8).

Selain itu, pihaknya juga meminta tambahan personil ke Polres Loteng, guna membantu jalannya gawe besar sekali setahun ini.

“Alhamdulillah, berkat pengawalan ketat, alhamdulillah budaya perang timbung berjalan lancar, demikian pula dengan arus lalu lintas juga aman,” ungkapnya.

Selanjutnya pihaknya mengucapkan banyak terimakasih kepada para panitia dan BKD Pejanggik, yang telah ikut membantu kepolisian dalam menciptakan kamtibmas di wialayah hukum Polsek Praya Tengah Loteng.

Catatan ntbupdate.com, Berdasarkan cerita masyarakat adat Pejanggik, tradisi ini berawal dari mimpi buruk Raja Mas Meraje Kesume yang melihat tanda huru-hara dan kekacauan di dalam istana.
Untuk menolak bala dan mendamaikan ketidakharmonisan, sang raja memerintahkan ritual penuh kegembiraan dan rasa syukur sebagai pengganti konflik.

Selain itu ada juga yang berpendapat Perang Timbung dimaknai sebagai peringatan perpindahan dan kembalinya Raja Pejanggik, sekaligus simbol persatuan warga dan para tokoh agama.

Prosesi dan Pelaksanaan perang Timbung, Peserta saling melempar timbung (makanan tradisional sejenis lemang dari beras ketan yang dimasak di dalam bambu). Selain itu perang Timbung juga dijadikan ajang Silaturahmi dan ritual budaya dan doa bersama yang dipimpin pemuka adat atau kiyai, tradisi riang gembira ini kerap menjadi sarana bagi muda-mudi untuk saling mengenal. (NU-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *