Bergelar MMRS, FP4 NTB Optimis dr Basirun Mampu Ubah Wajah Rumah Sakit Lebih Baik

Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Forum Peduli Pembangunan dan Pelayanan Publik (FP4), acungkan jempol kepada bapak Bupati Lombok Tengah (Loteng), yang telah melantik dr. Basirun sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya Loteng.

Pasalnya, melihat dari bisik pendidikan, hanya dr Basirun yang bergelar Magister Manajemen Rumah Sakit (MMRS), sehingga dinilai sangat tepat dan mampu mengubah wajah rumah sakit kebanggaan masyarakat Loteng ini, ramah pasien dan lebih baik.

Apalagi status rumah sakit dari kelas C menjadi kelas B, diperlukan pemimpin yang memiliki bisik dan Almamater yang mampu membawa perubahan.

Demikian di katakan sekretaris FP4 NTB, Lalu Deny Rusmin J., SH, sembari mengucapkan selamat kepada dr. Basirun dan seluruh jajaran yang baru dilantik. Amanah ini harus dijawab dengan kerja nyata, integritas, dan pelayanan yang semakin manusiawi. Masyarakat tidak hanya menunggu hadirnya pemimpin baru, tetapi juga menunggu perbaikan yang nyata.

Dikatakan, rotasi, mutasi, maupun promosi jabatan perlu ditempatkan sebagai upaya memperkuat organisasi, bukan sekadar mengisi struktur. Setiap pejabat diharapkan memiliki tanggung jawab yang jelas dan sasaran kerja yang dapat dievaluasi.

“Pergantian orang harus membawa perbaikan, bukan hanya pergantian nama pada struktur organisasi. Ukuran keberhasilannya adalah bagaimana pasien dilayani, bagaimana keluarga pasien mendapatkan kepastian informasi, dan bagaimana persoalan diselesaikan tanpa saling melempar tanggung jawab,” katanya.

Tantangan rumah sakit kelas B
Pelantikan direktur baru berlangsung ketika RSUD Praya telah berstatus rumah sakit kelas B. Sehingga pihaknya menilai peningkatan status tersebut merupakan capaian yang patut diapresiasi, tetapi sekaligus membawa tanggung jawab lebih besar bagi direksi dan seluruh jajaran rumah sakit.

“Naik kelas bukan garis akhir. Justru di situlah tuntutan terhadap mutu pelayanan semakin besar. Jangan sampai rumah sakit naik kelas secara administratif, tetapi masyarakat tidak merasakan peningkatan dalam pelayanan sehari-hari,” tegasnya.

Ia berharap direksi baru memastikan perubahan status berjalan seiring dengan kesiapan tenaga kesehatan, sarana pelayanan, koordinasi antarunit, dan kepastian penanganan pasien.

Selanjutnya Perkuat sistem dan keterbukaan, FP4 berharap manajemen baru memberi perhatian pada kejelasan alur pelayanan, waktu tunggu, komunikasi petugas dengan pasien, serta tindak lanjut pengaduan. Deny menekankan bahwa pembenahan harus menyentuh sistem kerja, bukan hanya menuntut petugas di garis depan.

“Pelayanan yang baik membutuhkan tenaga kesehatan dan petugas yang didukung oleh manajemen. Harus ada koordinasi yang sehat, pembagian tugas yang jelas, dan sarana yang memadai. Jangan sampai kelemahan sistem justru dibebankan seluruhnya kepada petugas yang berhadapan langsung dengan pasien,” ujarnya.

Ia juga meminta jajaran manajemen membuka ruang komunikasi yang sehat dengan masyarakat. Pengaduan dan kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab, menurutnya, perlu diperlakukan sebagai bahan evaluasi.
“Keterbukaan bukan tanda kelemahan. Justru manajemen yang mau mendengar, menjelaskan, dan memperbaiki persoalan akan lebih mudah membangun kepercayaan publik. Keluhan masyarakat jangan berhenti pada penerimaan laporan, tetapi harus memiliki tindak lanjut yang jelas,” pintanya.

Deny berharap kepemimpinan Basirun menjadi momentum penguatan kepercayaan masyarakat terhadap RSUD Praya.
“Selamat bekerja kepada dr. Basirun dan seluruh jajaran. Harapan kami, perubahan kepemimpinan dan kenaikan kelas rumah sakit benar-benar menghadirkan pelayanan yang semakin berkualitas, adil, dan manusiawi. Rumah sakit boleh naik kelas, tetapi yang terpenting masyarakat ikut merasakan manfaatnya,” tutupnya. (Nu-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *