Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Tengah (Loteng), menggelar sosialisasi pencegahan Kekerasan Seksual di Pondok Pesantren (Ponpes) NU Al- Manshuriyah Ta’limusshibyan Bonder Kecamatan Praya Barat Loteng.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mengimplementasikan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 91 Tahun 2025 tentang Program Pengembangan Pesantren Ramah Anak (PRA) dan semarak Hari Santri Nasional (HSN) 22 Oktober 2026.
Hadir Kepala Kantor Wilayah Kemenag NTB, Dr. H. Zamroni Aziz, S.HI., MH., Wakil Komisi II DPRD NTB Fraksi Golkar Dr. Hj. Megawati Lestari, SH., MH., Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Mataram Dr. Hj. Baiq Muliana, M.Pd., Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram Dr. Joko Sumadi, SH., MH., perwakilan Polresta, serta para Tuan Guru, pengasuh dan ketua Ponpes se- Loteng.
Turut hadir Kepala Madrasah Negeri, Kepala KUA, Kepala Seksi, penyelenggara, penyuluh dan penghulu di lingkungan Kemenag Loteng.
Kepala Kantor Kemenag Loteng H. Lalu Syahdi MPd dalam laporannya menyampaikan, belajar dari beberapa kasus yang terjadi di lingkungan Ponpes, maka acara sosialisasi tentang pencegahan seksual, sangat tepat dilakukan, sebagai salah satu langkah dalam melakukan pencegahan, sehingga hal serupa tidak lagi terjadi.
“Yang sudah berlalu, itu kita jadikan pembelajaran bersama, untuk kita lakukan perbaikan bersama,” pintanya.
Dikatakan, adapun jumlah ponpes di Loteng saat ini tercatat sebanyak 327 lembaga.
“Dari 327 itu, yang masih aktif sebanyak 301. Sisanya 27 dalam proses nonaktif izin operasional karena sudah tidak memenuhi persyaratan sebagai ponpes,” tegasnya.
Sementara itu, Kakanwil Kemenag NTB Dr. H. Zamroni Aziz dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan kualitas pesantren beriringan dengan upaya pencegahan kekerasan.
Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan pesantren karena merupakan alumni Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah di pondok pesantren, sehingga pihaknya sedikit tidak sudah memberikan arahan dan harapan, agar pimpinan dan pembina ponpes di Loteng, bisa mereka jalankan.
“Dari kecil sampai selesai MA, saya dibesarkan di kalangan madrasah, jadi sedikitnya saya tau apa saja persoalan di Ponpes dan langkah yang harus di lakukan oleh pimpinan ponpes,” katanya.
H. Zamroni membandingkan kondisi pesantren masa lalu dengan saat ini. Ia menyebut, pada zamannya guru belum bersertifikasi dan belum inpassing, bahkan kehadiran guru hanya sekali dalam seminggu. Namun kini setelah adanya program pemerintah, sebagai bentuk perhatian kepada guru madrasah, alhamdulillah semuanya rajin.
“Dulu guru datang sekali seminggu saja bisa melahirkan Kakanwil Kemenag NTB. Apalagi hari ini gurunya sudah sertifikasi, sudah inpassing, sudah profesional semua dan rajin. Saya yakin akan melahirkan tokoh-tokoh bangsa,” ungkapnya.
Dalam kegiatan ini, pihaknya mengucapkan banyak terimakasih kepada kepala Kemenag Loteng, yang peduli dengan situasi saat ini dan telah menghadirkan narasumber dari LPA Mataram dan Polresta untuk memberikan pemahaman komprehensif terkait mekanisme pencegahan, pelaporan, dan penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan.
Kakanwil berharap para pimpinan ponpes aktif berdiskusi dan menyampaikan persoalan di lapangan agar solusi yang dihasilkan tepat sasaran.
“Kita ingin pesantren menjadi lembaga pendidikan yang aman, nyaman, dan melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang berakhlak,” pungkasnya.
Dikatakan, kegiatan sosialisasi ini sebagai bentuk komitmen Kemenag dalam menjaga marwah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman dan bermartabat, sesuai dengan tema Hari Santri 2026. (NU-01).
