Lombok Tengah (ntbupdate.com)- Maraknya isu di Media Sosial (Medsos) seperti Facebook, yang menyebutkan Pengerusakan jalan di salah satu jalan di wilayah Desa Pengadang Kecamatan Praya Tengah Lombok Tengah (Loteng), disebabkan incumben atas nama Zaenal Abidin kalah dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Desa setempat.
Menanggapi hal itu, Kepala Desa Pengadang Zaenal Abidin dengan tegas mengatakan, apa yang tersebar di Facebook ataupun di media itu tidak benar, malah dirinya yang melarang para pendukungnya, untuk tidak melakukan hal hal yang merugikan orang banyak.
“Kalah menang itu hal biasa, dan malah saya melarang pendukungnya untuk tidak melakukan hal hal yang merusak nama baik Desa Pengadang,” katanya, Selasa (3/11).
Selanjutnya soal pembongkaran jalan, asli pihaknya tidak tau apa apa, malah pihaknya di kabari oleh anaknya sendiri, sehingga ia tau ada masyarakat yang melakukan pembongkaran. “Anak saya sempat ajak saya ke lokasi, tapi saya bilang tamu bapak masih banyak ini nak,” ceritanya.
Masih soal pembongkaran, setelah ia hubungi sejumlah tim, ternyata pembongkaran itu dilakukan oleh masyarakat, di mana jalan yang dilewati itu murni tanah miliknya, artinya tanah itu bukan tanah wakaf ataupun hibah tapi murni milik pribadi
Setelah pihaknya mengumpulkan informasi kenapa itu sampai terjadi, ternyata ada isu salah satu tokoh di salah satu kampung di desa Pengadang, yang mengerjakan proyek rabat kampung. Dimana tokoh ini mengancam bila ada di kampung ini yang keluar dari salah satu cakades pilihannya, maka akan di kenakan pajak Rp 150 Ribu perbulan jika tidak mampu maka akan di usir dari kampung.
Sehingga hal inilah yang membuat masyarakat marah, terutama masyarakat yang tanahnya dilewati jalan ke kampung tersebut.
“Mungkin ini yang membuat masyarakat pemilik tanah yang di lewati ke kampung tersebut marah, oknum tokoh ini tidak pernah memikirkan imbasnya,” ujarnya.
Kenapa ia mengatakan tidak memikirkan imbasnya, sebab jalan menuju ke kampung tokoh ini di atas tanah milik masyarakat yang marah ini, bisa di katakan pintu masuk ke kampungnya sehingga hal inilah yang membuat pemilik tanah marah, dan terjadilah pembongkaran.
“Yang jelas, saya tidak pernah memerintahkan siapapun, kendati beliau pemilik tanah tersebut pendukungnya, cuman apa yang di pertontonkan oleh oknum tersebut, bagi saya salah besar, sebab yang namanya memilih pemimpin itu bebas, tanpa ada unsur paksaan namun malah ini pakai ancaman segala,” ungkapnya.
Soal kekalahan baginya itu hal biasa, sebab dalam permainan apapun, kalah menang pasti ada. Pasca kalah malah pihaknya tidak pernah berpikir macam-macam, pihaknya ingin terfokus melanjutkan bisnisnya, yang sempat vakum beberapa tahun dan ingin ia kembangkan lagi.
